...Ijinkan kukembangkan sayap ini. Ijinkan aku terbang diantara biru langit dan samudramu. Melewati bukit dan gunung tak terkunjungi. Mengungkap betapa cintamu tak ada bandingnya, tak ternamai bentuknya. Ijinkan kupersembahkan ayat-ayat cintamu untuk kekasihku. Disana diseberang pulau, sebuah peradaban yang masih menyisakan tempat untuk mengagungkan namamu....
-----------
Entah untuk keberapa kali, perjalanan ke kampung halaman ini bukanlah untuk tujuan liburan. Penerbangan pagi selalu menjadi pilihan, bebas macet dan setiba disana masih sempat menikmati matahari pagi yang lebih lambat sekitar 20 menit dibanding Jakarta. Kegiatan berkemas-kemas semalam mengurangi jam tidur pun kualitasnya. Akhirnya setelah tinggal landas, dengan turbulensi dan telinga yang sakit akibat tekanan udara dan deru mesin pesawat, aku paksakan tidur. Jika lancar, perjalanan ini menyisakan waktu lebih dari se-jam lagi. Lumayan buat tidur. Setelah di jendela yang kulihat hanya putih saja, atau jalan lintas sumatra nampak seperti tali kecil. Perkiraanku pesawat masih ada diatas provinsi Sumatra Selatan. Daratan yang nampak sepertinya kebun kelapa sawit yang menghampar. Kalau dengan perjalanan darat pemandangan seperti itu bak lautan. Monoton. Sejauh mata memandang hanya pohon kelapa sawit saja. Syukurlah, sekarang tak perlu menempuh perjalanan darat.
Tidurku tak akan sempat dihinggapi mimpi dalam perjalanan ini. Aku terjaga, lalu melihat jendela. Awan-awan putih sudah berkurang, daratan sudah terlihat lebih jelas dan tidak monoton. Lalu kulihat jam. Dari durasi waktu kuperkirakan tidak lama lagi kita akan mendarat. Maka kuputuskan untuk tetap terjaga. Lama kelamaan pemandangan terlihat lebih jelas. Tak lama nampak laut. Benar, kita akan segera mendarat. Dari mikrofon, suara pramugari menjelaskan bahwa kita akan segera mendarat. Eratkan sabuk pengaman. Kepalakumenempel ke kaca jendela.
Aku masih tetap norak pada saat sebelum mendarat ini. Bagaimana tidak, pesawat akan sedikit berputar untuk mengambil ancang-ancang mendarat. Saat berputar itulah pemandangan pantai dan laut padang nampak. Indah. Pulau-pulau, perahu nlayan yang bertebaran, keramba, pantai, pelabuhan. Moment langka yang tidak akan bisa dinikmati oleh penderita Acrophobia. Untungnya saya bukan penderita phobia satu itu, sialnya saya penderita bathopobia , jadi dipastikan aku tidak bisa menikmati laut dari atas perahu, diving ataupun snorkling.
Masih dalam keadaan norak, saya mencoba menebak-nebak nama-nama pulau kecil itu dengan gaya sok tau. Pulau Sikuai, Pulau Anso duo, lalu mana pulau yang menjadi bamper tsunami untuk kota padang itu? Mentawai, siberut? Belum sempat menemukan jawaban pemandangan laut itu perlahan hilang diganti dengan perkampungan penduduk sekitar bandara, lintasan pacu. Aku segera meluruskan duduk, tekanan saat mendarat dan lepas landas membuat tidak nyaman.
“Selamat datang di bandara internasional Minangkabau, cuaca cerah 25 derajat celsius, penerbangan kita kali ini lancar dan lebih cepat 15 menit dari yang dijadwalkan. Periksa kembali barang bawaan anda. Terima kasih telah terbang bersama kami..”
Pemandangan jalan dari bandara ke kampungku relatif tidak ada banyak perubahan. Tapi tetap tidak membosankan. Aku akan melewati air terjun lembah anai, pemandangan gunung Marapi dan Singgalang dan akhirnya menjelang sampai adalah pemandangan danau dari ketinggian. Mendekati rumah pemandangan abadi yang tiada bosan kulukiskan, liuk sungai yang berawal dari danau singkarak, diujungnya terdapat jembatan serta jembatan kereta. Mengenang lagi carita masa kecil disini.
----
Sejak kejadian tragis saat main layang layang itu keinginanku untuk bermain benda terbang itu hilang, tak ada selera. Mainan lain lebih menarik, lebih damai, lebih aman dari resiko dimarahi dan lebih aman dari orang dewasa. Tutup kaleng biskuitpun bisa jadi roda yang dikendalikan dengan seutas tali. Bambu bisa jadi tembakan dengan peluru buah jali. Main lompat karet atau galasin sesekali menyenangkan, walapun aku selalu jadi anak bawang. Main tanah lebih seru lagi, mengaduk tanah merah yang halus menjadi adonan cair lalu menimbun kembali menjadi bentuk menara. Main kasti jadi favorit, aku pelari yang tangguh.
Yang lebih seru lagi adalah ketika liburan. Kami melupakan segala gaduh hari sekolah, bahkan lebih seru lagi kami meninggalkan gaduhnya kota Jakarta menuju kampung halaman. Tiga hari 2 malam perjalanan dengan bis mempunyai kesan sendiri selama perjalanan. Menyeberangi selat sunda dengan kapal feri, memandangi bukit kapur yang berbentuk stupa di daerah sumatra selatan. Melewati tempat-tempat yang tercantum dalam pelajaran IPS. PLTU Bukit Asam, perkebunan karet dengan bau tak sedap yang berasal dari sadapan karet yang sudah berhari-hari. Atau membeli durian dan duku di perjalanan. Buat anak kecil sebuah perjalanan liburan selalu menarik tak peduli betapa melelahkan perjalanan itu. Dua jam sebelum sampai, tepatnya setelah gapura ”selamat datang di Sumatra Barat”, saya biasanya tidak tidur. Rasa senang bahwa akan segera sampai di tujuan memberikan semangat berlipat. Pemandangan yang akan berakhir di danau Singkarak. Ah sudah tak sabar disambut ninik dan datuk disana, di gubuk yang digunakan untuk pabrik kerupuk di pinggir danau.
Dan petualangan liburan di kampungpun dimulai. Hari pertama kami sudah tidak sabar untuk berenang di danau, tapi ibu mencegah karena fisik kami masih belum fit benar. Kami hanya diijinkan untuk bermain air dan mencari udang yang bersembunyi dibalik batu-batu kecil ditepi danau. Esoknya kami beranjak ke rumah nenek yang ada di kaki bukit, jaraknya sekitar dua kilometer dari danau. Menelusuri aliran sungai yang bening, terus mendaki dan tibalah di lereng bukit itu.
Rencana esoknya adalah ke sungai. Ya, banyak yang bisa dilakukan disana, berenang, mencari udang, mencari pensi (kerang air tawar), atau meniti jembatan dari tiga batang bambu. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana. Tak terasa tau-tau lapar mendera. Bekal dalam rantang besar kami serbu ramai-ramai. Tak peduli apapun lauknya, pasti kami lahap. Setelah bersenang senang kami pulang. Melalui jalan yang mendaki, Diantara kebun singkong, lelah sehabis berenang ditambah harus berjalan mendaki, sebuah penderitaan pendek yang harus dihadapi. Nampaknya kegiatan ini agak bertentangan dengan pepatah orang dulu. “ berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian” dan yang kami lakukan adalah: berenang-renang dahulu, bersakit-sakit kemudian. Hahhha.. tawa kami tak pernah lepas selama perjalanan menuju rumah.
Dari halaman nampak datuk sedang sibuk di teras rumah. Rumah kayu itu betreras kecil, tapi ruangan dalam rumah yang kami sebut dangau itu luas, lepas. Begitulah ciri rumah tradisional kami, ada ruangan lepas untuk acara “duduak” (pertemuan) dan makan basamo untuk acara khusus. Maklum saja, datukku bergelar Datuk penghulu atau pemimpin adat. Rumah kayu berjenis panggung yang dibawahnya merupakan gudang kadang sesekali jadi kandang. Hanya teras rumah dan tangga yang dibangun dari batu dan semen. Selebihnya kayu, dinding rumah dan lantai semua dari kayu. Lantai dapur lantainya masih tanah, tungku perapian dengan 3 batu, abu hasil pembakaran menumpuk dibelakang tungku.
Kesibukan datuk mengundang perhatianku. Di sekitar datuk berserakan bilah-bilah bambu dan alat-alat tajam, kertas dan benang. Di sudut sudah berdiri satu kerangka yang terbuat dari bambu yang sudah diraut halus.
Apa itu, datuk?
Alang-alang...
Alang-alang? Aku mengerutkan kening. Datuk segera mencari kosa kata lain.
Hmm... alang-alang yang bisa terbang...
Layang-layang? Mataku mulai berbinar. Lelah sehabis berenang di sungai dan berjalan mendaki tadi sesaat terlupa. Biasanya aku langsung tidur sehabis berenang.
Iya...
Datuk asik melanjutkan kerjanya. Menempel kertas minyak warna merah dan kuning pada kerangka itu. Aku masih terdiam, makin ingin tau jadinya seperti apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar