17 February 2009
Satu hari di awal bulan February, aku berkata begini:
“Phuls, untuk tahun ini aku mohon jangan memberi ucapan selamat pada tanggal 9 itu.”
Kamu heran, “kenapa?”
“engga, lagi engga pengen diingatkan tentang hari itu aja. Takut sedih aja, karena engga ada apa-apa yang aku capai setahun ini, tidak ada peningkatan kualitas hidup..”
“baiklah..” tanpa berdebat kamu setuju saja.
Tapi ketika hari itu datang kamu mengingkari janji itu bukan?
“Maaf Mel, aku engga tahan untuk tidak mengucapkan itu, tolong jangan larang aku. Hepi bersdey...!” serumu tanpa memberi kesempatan aku berkata lagi.“Baiklah, karena sudah keluar seperti kentut, maka aku mengucapkan terima kasih…” lalu kita tertawa lebar lagi. Aku juga sudah lupa dengan keinginan untuk tidak diingatkan tentang hari itu, walaupun aku berusaha sembunyi, tapi ucapan dan iklas itu memang seperti kentut, tak bisa ditahan keluarnya.
Hari itu aku menerima anugrah yang seharusnya aku syukuri sejak awal. Anugrah bahwa aku punya teman dan sahabat yang banyak, anugrah bahwa aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup.
Kiki aku teringat lagi, apakah kau menceritakan semua itu pada Chan, sehingga can mengucapkan Selamat bulan February? Ucapan itu terdengar lebih manis dari sekedar hepi bersdey. Hey… bukankah Bulan ini memang milik kita? Aku merayakan hari lahir dan momen wisuda, sedangkan kamu merayakan hari peresmian pasangan jiwamu? Semoga Tuhan menganugarahkan bulan ini juga bagiku untuk peresmian pasangan jiwaku, agar bulan ini benar-benar jadi milik kita. Wallahu’allam bissawab…
Yang jelas February itu jadi bulan yang lumayan berat bagi perasaan, saat hujan rajin sekali menyambangi kita, kadang banjir menjadi headline media, saat radio memainkan lagu-lagu kenangan. Semua terasa berat di perasaan ini.