Kamis, 30 Juni 2011

Menarik kenangan Layang-layang ( bagian 2)


...Ijinkan kukembangkan sayap ini. Ijinkan aku terbang diantara biru langit dan samudramu. Melewati bukit dan gunung tak terkunjungi. Mengungkap betapa cintamu tak ada bandingnya, tak ternamai bentuknya. Ijinkan kupersembahkan ayat-ayat cintamu untuk kekasihku. Disana diseberang pulau, sebuah peradaban yang masih menyisakan  tempat untuk mengagungkan namamu....

-----------

Entah untuk keberapa kali, perjalanan ke kampung halaman ini bukanlah untuk tujuan liburan.  Penerbangan pagi selalu menjadi pilihan, bebas macet dan setiba disana masih sempat menikmati matahari pagi yang lebih lambat sekitar 20 menit dibanding Jakarta. Kegiatan berkemas-kemas semalam mengurangi jam tidur pun kualitasnya. Akhirnya setelah tinggal landas, dengan turbulensi dan telinga yang sakit akibat tekanan udara dan deru mesin pesawat, aku paksakan tidur. Jika lancar, perjalanan ini menyisakan waktu lebih dari se-jam lagi. Lumayan buat tidur. Setelah di jendela yang kulihat hanya putih saja, atau jalan lintas sumatra nampak seperti tali kecil. Perkiraanku pesawat masih ada diatas provinsi Sumatra Selatan. Daratan yang nampak sepertinya kebun kelapa sawit yang menghampar.  Kalau dengan perjalanan darat pemandangan seperti itu bak lautan. Monoton. Sejauh mata memandang hanya pohon kelapa sawit saja. Syukurlah, sekarang tak perlu menempuh perjalanan darat.

Tidurku tak akan sempat dihinggapi mimpi dalam perjalanan ini.  Aku terjaga, lalu melihat jendela. Awan-awan putih sudah berkurang, daratan sudah terlihat lebih jelas dan tidak monoton. Lalu kulihat jam. Dari durasi waktu kuperkirakan tidak lama lagi kita akan mendarat. Maka kuputuskan untuk tetap terjaga. Lama kelamaan pemandangan  terlihat lebih jelas.  Tak lama nampak laut. Benar, kita akan segera mendarat. Dari mikrofon, suara pramugari menjelaskan  bahwa kita akan segera mendarat. Eratkan sabuk pengaman. Kepalakumenempel ke kaca jendela.

Aku masih tetap norak pada saat sebelum mendarat ini. Bagaimana tidak, pesawat akan sedikit berputar  untuk mengambil ancang-ancang mendarat. Saat berputar itulah pemandangan pantai dan laut padang nampak. Indah. Pulau-pulau, perahu nlayan yang bertebaran, keramba, pantai, pelabuhan. Moment langka yang tidak akan bisa dinikmati oleh penderita Acrophobia. Untungnya saya bukan penderita phobia satu itu, sialnya saya penderita bathopobia , jadi dipastikan aku tidak bisa menikmati laut dari atas perahu, diving ataupun snorkling.

Masih dalam keadaan norak, saya mencoba menebak-nebak nama-nama pulau kecil itu dengan gaya sok tau. Pulau Sikuai, Pulau Anso duo, lalu mana pulau yang menjadi bamper tsunami untuk kota padang itu? Mentawai, siberut? Belum sempat menemukan jawaban pemandangan laut itu perlahan hilang diganti dengan perkampungan penduduk sekitar bandara,  lintasan pacu.  Aku segera meluruskan duduk, tekanan saat mendarat dan lepas landas membuat tidak nyaman.

“Selamat datang di bandara internasional Minangkabau, cuaca cerah 25 derajat celsius, penerbangan kita kali ini lancar dan lebih  cepat 15 menit dari yang dijadwalkan. Periksa kembali barang bawaan anda. Terima kasih telah terbang bersama kami..”


Pemandangan jalan dari bandara ke kampungku relatif tidak ada banyak perubahan.  Tapi tetap tidak membosankan. Aku akan melewati air terjun lembah anai, pemandangan gunung Marapi dan Singgalang dan akhirnya menjelang sampai adalah pemandangan danau dari ketinggian. Mendekati rumah pemandangan abadi yang tiada bosan kulukiskan, liuk sungai yang berawal dari danau singkarak, diujungnya terdapat jembatan serta jembatan kereta.  Mengenang lagi carita masa kecil disini.

----

Sejak kejadian tragis saat main layang layang itu keinginanku untuk bermain benda terbang itu hilang, tak ada selera. Mainan lain lebih menarik, lebih damai, lebih aman dari resiko dimarahi dan lebih aman dari orang dewasa.  Tutup kaleng biskuitpun bisa jadi roda yang dikendalikan dengan seutas tali. Bambu bisa jadi tembakan dengan peluru buah jali. Main lompat karet atau galasin sesekali menyenangkan, walapun aku selalu jadi anak bawang. Main tanah lebih seru lagi, mengaduk tanah merah yang halus menjadi adonan cair lalu menimbun kembali menjadi bentuk menara. Main kasti  jadi favorit, aku pelari yang tangguh.

Yang lebih seru lagi adalah ketika liburan. Kami melupakan segala gaduh hari sekolah, bahkan lebih seru lagi kami meninggalkan gaduhnya kota Jakarta menuju kampung halaman.  Tiga hari 2 malam perjalanan dengan bis  mempunyai kesan sendiri selama perjalanan.  Menyeberangi selat sunda dengan kapal feri,  memandangi bukit kapur yang berbentuk stupa di daerah sumatra selatan. Melewati tempat-tempat yang tercantum dalam pelajaran IPS.  PLTU Bukit Asam, perkebunan karet dengan bau tak sedap yang berasal dari sadapan karet yang sudah berhari-hari. Atau membeli durian dan duku di perjalanan. Buat anak kecil sebuah perjalanan liburan selalu menarik tak peduli betapa melelahkan perjalanan itu.  Dua jam sebelum sampai, tepatnya setelah gapura ”selamat datang di Sumatra Barat”, saya biasanya tidak tidur. Rasa senang bahwa akan segera sampai di tujuan memberikan semangat berlipat. Pemandangan yang akan berakhir di danau Singkarak. Ah sudah tak sabar disambut ninik dan datuk disana, di gubuk yang digunakan untuk pabrik kerupuk di pinggir danau.

Dan petualangan liburan di kampungpun dimulai. Hari pertama kami sudah tidak sabar untuk berenang di danau, tapi ibu mencegah karena fisik kami masih belum fit benar. Kami hanya diijinkan untuk bermain air dan mencari udang yang bersembunyi dibalik batu-batu kecil ditepi danau. Esoknya kami beranjak ke rumah nenek yang ada di kaki bukit, jaraknya sekitar dua kilometer dari danau. Menelusuri aliran sungai yang bening, terus mendaki dan tibalah di lereng bukit itu.

Rencana esoknya adalah ke sungai. Ya, banyak yang bisa dilakukan disana, berenang, mencari udang, mencari pensi (kerang air tawar), atau meniti jembatan dari tiga batang bambu. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana. Tak terasa tau-tau lapar mendera. Bekal dalam rantang besar kami serbu ramai-ramai. Tak peduli apapun lauknya, pasti kami lahap. Setelah bersenang senang kami pulang. Melalui jalan yang mendaki, Diantara kebun singkong, lelah sehabis berenang ditambah harus berjalan mendaki, sebuah penderitaan pendek yang harus dihadapi. Nampaknya kegiatan ini agak bertentangan dengan pepatah orang dulu. “ berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian” dan yang kami lakukan adalah: berenang-renang dahulu, bersakit-sakit kemudian. Hahhha.. tawa kami tak pernah lepas selama perjalanan menuju rumah.

Dari halaman nampak datuk sedang sibuk di teras rumah. Rumah kayu itu betreras kecil, tapi ruangan dalam rumah yang kami sebut dangau itu luas, lepas. Begitulah ciri rumah tradisional kami, ada ruangan lepas untuk acara “duduak” (pertemuan) dan makan basamo untuk acara khusus.  Maklum saja, datukku bergelar Datuk penghulu atau pemimpin adat. Rumah kayu berjenis panggung yang dibawahnya merupakan gudang kadang sesekali jadi kandang.  Hanya teras rumah dan tangga yang dibangun dari batu dan semen. Selebihnya kayu, dinding rumah dan lantai semua dari kayu. Lantai dapur lantainya masih tanah, tungku perapian dengan 3 batu, abu hasil pembakaran menumpuk dibelakang tungku.

Kesibukan datuk mengundang perhatianku. Di sekitar datuk berserakan bilah-bilah bambu dan alat-alat tajam, kertas dan benang. Di sudut sudah berdiri satu kerangka yang terbuat dari bambu yang sudah diraut halus.

Apa itu, datuk?

Alang-alang...

Alang-alang?  Aku mengerutkan kening. Datuk segera mencari kosa kata lain.

Hmm...  alang-alang yang bisa terbang...

Layang-layang? Mataku mulai berbinar. Lelah sehabis berenang di sungai dan berjalan mendaki tadi sesaat terlupa. Biasanya aku langsung tidur sehabis berenang.

Iya...

Datuk asik melanjutkan kerjanya. Menempel kertas minyak warna merah dan kuning pada kerangka itu. Aku masih terdiam,  makin ingin tau jadinya seperti apa.

 bersambung...

 

 

 

Minggu, 26 Juni 2011

Dan akupun bergeming

ketika ancaman itu nyata di depan mata
kehilanganmu..

beginikah caraNya untuk menghapus raguku?

Senin, 20 Juni 2011

Ruang untukku

Belum selesai kuterjemahkan segala kelakarNya.  Kini harus kuterjemahkan keadaan dan meraba lagi  tentang apa semua ini. Ini tentang bisikan hati beberapa tahun lalu. Tentang jingga yang akan datang kembali  petang ini.

Belum pula dapat kumengerti, apakah hati dan pikir sudah berdamai kali ini. Ketololan atau memang sudah takdir  yang terjadi hari ini. Entah lah, semoga Tuhan segera memberi petunjuk.

Yang jelas aku kembali menyepi, terisak di dalam kubangan gelap ini. Mengunci rapat berita. Aku bahkan tak mampu meraba kecemasan ini tentang esok atau kemarin. Yang pasti hari ini perih itu akulah penciptanya, mengoyak hati menghambur aksara dan meleburlah semua rasa. Esok benar-benar buram dimataku, tak ada analisa, tak ada fakta yang ada hanya sesal mengapa lingkaran ini tak jua putus jalannya.

Aku memilih menyepi dalam hati, karena dialah yang selama ini kupercayai. Membungkam pikiran sementara,  sudahlah! Tuhan punya kuasa.

Memilih menyepi dalam hati, sunyi karena tak ada senandung kali ini. Tak ingin. Irama-irama itu hanya untuk bersuka, duka hanya akan bertambah dalam dengan senandung.  

Kamis, 16 Juni 2011

Menarik kenangan Layang-layang ( bagian 1)

Kembali  lagi mengenang masa kecil, antara sedih dan mengais sisa kenangan bahagia. Sedih karena kenangan itu hanya menyisakan sedikit hal.  Senang mengetahui bahwa  kenangan masa kecil  lebih banyak yang membahagiakan. Walaupun setiap anak mempunyai luka, tapi aku selalu menjadikan luka sebagai ‘dendam’ agar bisa meraih apa yang kuinginkan.  Luka dan ‘dendam’ yang menjamin  bahwa anak-aku tidak akan mengalami hal yang sama. Mereka harus lebih bahagia dari yang kualami dulu.  Ijinkan aku memenuhi janjiku ya Rabb.

Setiap kali melewati jalur ini kenangan itu selalu menghampiri. Dan sepanjang jalan kepalaku akan  penuh dengan cerita yang pernah terjadi disana. Senyum kecut kadang menghampiri seketika saat  cerita kenangan itu harus berhenti karena banyak hal yang hilang. Rentang waktu yang begitu panjang tak menghalangi ingatanku tentang cerita masa kecil disini.  Mungkin imaji yang harus diperkuat untuk menikmati segala kenangan itu.

---

Hidup di Jakarta di pertengahan tahun 80-an memang jauh berbeda dengan sekarang. Tinggal di sebuah kampung dalam gang di Jakarta jaman itu masih sangat nyaman. Masih banyak ruangan lepas untuk bermain.  Setidaknya masih ada lapangan bulutangkis untuk main gobak sodor atau waktu itu lebih dikenal dengan permainan galasin. Atau pohon jambu batu yang agak kokoh untuk menggantungkan ayunan dari ban bekas. Kalau mau bandel sedikit bisa main air di empang Wak Mahmud. Dekat situ ada pohon jambu batu yang buahnya banyak, kecil tapi manis, bijinya merah. Kami tak pernah mencuri karena wak Aji tak keberatan kita memanjat pohonnya. Mungkin karena buahnya sangat banyak sehingga beliau sudah tak peduli lagi.

Kalaupun mencuri itu biasanya buah buni. Warnanya hitam jika sudah masak. Yang saya tau hanya satu orang yang punya pohon itu yaitu Haji  Safri.  Pohon buni berada dekat kandang kambingnya. Bau kambing tak pernah menghalangi kami untuk menjuluk buah buni. Sesekali ketauan juga oleh pak Haji. Sebelum beliau sempat memaki kami sudah lari sambil terkekeh. Ah, kenakalan anak-anak.

Anak-anak main dimana saja. Di lapangan, jalan gang, rumah kosong, halaman rumah, di dalam rumah, bahkan di dekat kandang ayam. Belakang kandang ayam sering dipakai anak-anak untk mengumpat saat main petak umpat. Selebihnya Cuma maling dan pemilik ayam yang berani mendekat.

Masa itu Jakarta sedang giat-giatnya membangun.  Lapangan tempat saya bermain berada di samping Parmadisiwi yang sekarang lebih dikenal dengan BNN.  Jalan raya MT Haryono dari halim samapi pancoran masih dalam proses menjadi 4 jalur, yang kelak jalur lama dijadikan jalan tol berada di tengah. Proyek pembangunan sedang masa istirahat. Yang jelas setelah jalan dicor beton, tempat itu berubah menjadi tempat bermain kami yang baru. Panas tapi senang, masih aman dari kendaraan dan mesin-mesin proyek.

Maka pasa satu hari, jam 2 siang, setelah pura-pura tidur siang saya membawa layangan yang baru saya beli ke tempat itu. Tak ada teman tak apa, banyak angin yang akan menerbangkan layangan ini, begitu pikir ku. Jadilah kuterbangkan layangan dengan cara berlari.  Makin lama makin tinggi dan angin mencengkram erat layanganku, layangan segi empat berwarna putih. Kubiarkan layangan tambah tinggi dengan mengulurkan benang hingga gulungan habis. Kemudian aku bisa santai  memandanginya sambil sesekali menjaga agar tetap bisa bermain dengan angin. Rasanya seperti menyetir mobil ya, begitu pikirku saat itu.

Aku pikir dengan mengambil tempat jauh dari lapangan aku bisa tetap menikmati main layangan siang itu. Baru lima menit layangan lain datang dari  sebelah kanan. Kupikir dia hanya pamer ketinggian karena gulungan benangku sudah habis. Ah, aku memang naif, tak lama serangan itu dimulai dengan tanpa perlawanan. Sudah pasti dengan mudahnya ia melumpuhkan layangan milikku. Aku tercengang melihat layanganku sudah lemas dan perlahan melayang kearah yang tak dapat kukejar. Aku pasrah, entah siapa yang mengejarnya.  Dengan perasaan sangat sedih kugulung benang layangan yang tersisa. Barulah aku sadar bahwa layanganku tidak memakai benang gelasan diujungnya. Aku tahu guna jenis benang itu, tapi kata tetanggaku anak kecil tak usah pakai benang gelasan, tangan bisa luka. Benang itu memang tajam, jariku sempa sedikit luka ketika membantu teman menggulungnya. Mungkin tetanggaku berfikir layangan ini tidak akan dimainkan di lapangan.

Ah, apa boleh buat. Layangan sudah putus, pulang saja pikirku. Jalan pulang melewati pohon jambu di pinggi empang wak Aji dan kandang kambing dekat pohon buni. Keduanya tak menggoda aku untuk sekedar mencicipi di siang yang terik ini. Di pinggir lapangan sebelah sana seorang dewasa sedang terkekeh memandangku. Oh, dia biang keroknya! Lelaki dewasa dengan baju singlet. Orang dewasa seharusnya bekerja siang hari begini, bukan bermain layangan, begitu bukan?  Tapi orang dewasa ini sedang senang tak kepalang telah mengalahkan anak kecil, perempuan pula. Mengapa orang dewasa tak membiarkan anak kecil bermain dengan gembira sendiri. Masa kecil kurang bahagia atau memang tak punya kerjaan?

Apa dayaku? Dengan geram kuteruskan langkah lunglai menuju rumah. Aku sangat tau apa yang sedang menunggu di rumah.  Sebuah hukuman karena tidak tidur siang.

Kesalku tak juga reda, sedangkan hal buruk yang lain sedang menunggu di depan pintu. Aku berhenti sejenak di jarak sepuluh meter dari pintu rumah, meraba apakah tragedi itu benar-benar akan terjadi. Pintu tertutup, lalu aku mendekat dan seseorang  membuka pintu. Bukan ibu, tapi kakak perempuanku yang sudah siap telak pinggang. Ah, terabas saja. Dia memang mentang mentang. Kubebalkan kupingku dengan omelan menyebalkannya. Ibu di dapur, tak berkata apa-apa. Beliau termangu melihatku melempat benang layangan ke sudut dapur. Sementara kakakku masih mengoceh tentang aku yang tidak tidur siang, kaki kotor,  langsung naik ke tempat tidur.

Aku turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi, cuci kaki, lalu kembali ke tempat tidur lagi, meneruskan tidur yang tadi hanya pura-pura.  Walaupun rasa kesal tak bisa membuat aku tertidur.