Senin, 20 Juni 2011

Ruang untukku

Belum selesai kuterjemahkan segala kelakarNya.  Kini harus kuterjemahkan keadaan dan meraba lagi  tentang apa semua ini. Ini tentang bisikan hati beberapa tahun lalu. Tentang jingga yang akan datang kembali  petang ini.

Belum pula dapat kumengerti, apakah hati dan pikir sudah berdamai kali ini. Ketololan atau memang sudah takdir  yang terjadi hari ini. Entah lah, semoga Tuhan segera memberi petunjuk.

Yang jelas aku kembali menyepi, terisak di dalam kubangan gelap ini. Mengunci rapat berita. Aku bahkan tak mampu meraba kecemasan ini tentang esok atau kemarin. Yang pasti hari ini perih itu akulah penciptanya, mengoyak hati menghambur aksara dan meleburlah semua rasa. Esok benar-benar buram dimataku, tak ada analisa, tak ada fakta yang ada hanya sesal mengapa lingkaran ini tak jua putus jalannya.

Aku memilih menyepi dalam hati, karena dialah yang selama ini kupercayai. Membungkam pikiran sementara,  sudahlah! Tuhan punya kuasa.

Memilih menyepi dalam hati, sunyi karena tak ada senandung kali ini. Tak ingin. Irama-irama itu hanya untuk bersuka, duka hanya akan bertambah dalam dengan senandung.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar