Kembali lagi mengenang masa kecil, antara sedih dan mengais sisa kenangan bahagia. Sedih karena kenangan itu hanya menyisakan sedikit hal. Senang mengetahui bahwa kenangan masa kecil lebih banyak yang membahagiakan. Walaupun setiap anak mempunyai luka, tapi aku selalu menjadikan luka sebagai ‘dendam’ agar bisa meraih apa yang kuinginkan. Luka dan ‘dendam’ yang menjamin bahwa anak-aku tidak akan mengalami hal yang sama. Mereka harus lebih bahagia dari yang kualami dulu. Ijinkan aku memenuhi janjiku ya Rabb.
Setiap kali melewati jalur ini kenangan itu selalu menghampiri. Dan sepanjang jalan kepalaku akan penuh dengan cerita yang pernah terjadi disana. Senyum kecut kadang menghampiri seketika saat cerita kenangan itu harus berhenti karena banyak hal yang hilang. Rentang waktu yang begitu panjang tak menghalangi ingatanku tentang cerita masa kecil disini. Mungkin imaji yang harus diperkuat untuk menikmati segala kenangan itu.
---
Hidup di Jakarta di pertengahan tahun 80-an memang jauh berbeda dengan sekarang. Tinggal di sebuah kampung dalam gang di Jakarta jaman itu masih sangat nyaman. Masih banyak ruangan lepas untuk bermain. Setidaknya masih ada lapangan bulutangkis untuk main gobak sodor atau waktu itu lebih dikenal dengan permainan galasin. Atau pohon jambu batu yang agak kokoh untuk menggantungkan ayunan dari ban bekas. Kalau mau bandel sedikit bisa main air di empang Wak Mahmud. Dekat situ ada pohon jambu batu yang buahnya banyak, kecil tapi manis, bijinya merah. Kami tak pernah mencuri karena wak Aji tak keberatan kita memanjat pohonnya. Mungkin karena buahnya sangat banyak sehingga beliau sudah tak peduli lagi.
Kalaupun mencuri itu biasanya buah buni. Warnanya hitam jika sudah masak. Yang saya tau hanya satu orang yang punya pohon itu yaitu Haji Safri. Pohon buni berada dekat kandang kambingnya. Bau kambing tak pernah menghalangi kami untuk menjuluk buah buni. Sesekali ketauan juga oleh pak Haji. Sebelum beliau sempat memaki kami sudah lari sambil terkekeh. Ah, kenakalan anak-anak.
Anak-anak main dimana saja. Di lapangan, jalan gang, rumah kosong, halaman rumah, di dalam rumah, bahkan di dekat kandang ayam. Belakang kandang ayam sering dipakai anak-anak untk mengumpat saat main petak umpat. Selebihnya Cuma maling dan pemilik ayam yang berani mendekat.
Masa itu Jakarta sedang giat-giatnya membangun. Lapangan tempat saya bermain berada di samping Parmadisiwi yang sekarang lebih dikenal dengan BNN. Jalan raya MT Haryono dari halim samapi pancoran masih dalam proses menjadi 4 jalur, yang kelak jalur lama dijadikan jalan tol berada di tengah. Proyek pembangunan sedang masa istirahat. Yang jelas setelah jalan dicor beton, tempat itu berubah menjadi tempat bermain kami yang baru. Panas tapi senang, masih aman dari kendaraan dan mesin-mesin proyek.
Maka pasa satu hari, jam 2 siang, setelah pura-pura tidur siang saya membawa layangan yang baru saya beli ke tempat itu. Tak ada teman tak apa, banyak angin yang akan menerbangkan layangan ini, begitu pikir ku. Jadilah kuterbangkan layangan dengan cara berlari. Makin lama makin tinggi dan angin mencengkram erat layanganku, layangan segi empat berwarna putih. Kubiarkan layangan tambah tinggi dengan mengulurkan benang hingga gulungan habis. Kemudian aku bisa santai memandanginya sambil sesekali menjaga agar tetap bisa bermain dengan angin. Rasanya seperti menyetir mobil ya, begitu pikirku saat itu.
Aku pikir dengan mengambil tempat jauh dari lapangan aku bisa tetap menikmati main layangan siang itu. Baru lima menit layangan lain datang dari sebelah kanan. Kupikir dia hanya pamer ketinggian karena gulungan benangku sudah habis. Ah, aku memang naif, tak lama serangan itu dimulai dengan tanpa perlawanan. Sudah pasti dengan mudahnya ia melumpuhkan layangan milikku. Aku tercengang melihat layanganku sudah lemas dan perlahan melayang kearah yang tak dapat kukejar. Aku pasrah, entah siapa yang mengejarnya. Dengan perasaan sangat sedih kugulung benang layangan yang tersisa. Barulah aku sadar bahwa layanganku tidak memakai benang gelasan diujungnya. Aku tahu guna jenis benang itu, tapi kata tetanggaku anak kecil tak usah pakai benang gelasan, tangan bisa luka. Benang itu memang tajam, jariku sempa sedikit luka ketika membantu teman menggulungnya. Mungkin tetanggaku berfikir layangan ini tidak akan dimainkan di lapangan.
Ah, apa boleh buat. Layangan sudah putus, pulang saja pikirku. Jalan pulang melewati pohon jambu di pinggi empang wak Aji dan kandang kambing dekat pohon buni. Keduanya tak menggoda aku untuk sekedar mencicipi di siang yang terik ini. Di pinggir lapangan sebelah sana seorang dewasa sedang terkekeh memandangku. Oh, dia biang keroknya! Lelaki dewasa dengan baju singlet. Orang dewasa seharusnya bekerja siang hari begini, bukan bermain layangan, begitu bukan? Tapi orang dewasa ini sedang senang tak kepalang telah mengalahkan anak kecil, perempuan pula. Mengapa orang dewasa tak membiarkan anak kecil bermain dengan gembira sendiri. Masa kecil kurang bahagia atau memang tak punya kerjaan?
Apa dayaku? Dengan geram kuteruskan langkah lunglai menuju rumah. Aku sangat tau apa yang sedang menunggu di rumah. Sebuah hukuman karena tidak tidur siang.
Kesalku tak juga reda, sedangkan hal buruk yang lain sedang menunggu di depan pintu. Aku berhenti sejenak di jarak sepuluh meter dari pintu rumah, meraba apakah tragedi itu benar-benar akan terjadi. Pintu tertutup, lalu aku mendekat dan seseorang membuka pintu. Bukan ibu, tapi kakak perempuanku yang sudah siap telak pinggang. Ah, terabas saja. Dia memang mentang mentang. Kubebalkan kupingku dengan omelan menyebalkannya. Ibu di dapur, tak berkata apa-apa. Beliau termangu melihatku melempat benang layangan ke sudut dapur. Sementara kakakku masih mengoceh tentang aku yang tidak tidur siang, kaki kotor, langsung naik ke tempat tidur.
Aku turun dari tempat tidur, menuju kamar mandi, cuci kaki, lalu kembali ke tempat tidur lagi, meneruskan tidur yang tadi hanya pura-pura. Walaupun rasa kesal tak bisa membuat aku tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar