Menemukan langit pada titik dimana kecemasan masih tersisa
dan aku mengabaikannya dengan segala senyum. Lalu ketika malam datang, kembali
tanya-tanya itu duduk disampingku. Diam tapi
menggerakkanku untuk mencari jawab. Ah, sunyi... mengapa kau begitu setia
selama ini? Sekeras mungkin keteriakkan isi jiwa namun kau hadang di depan
pintu. Lalu aku kembali kelu.
” Aku rindu..rindu yang tak pernah terhenti waktu”, begitu kuratapkan pada pelukan biru dan dalam hening. Kau terlanjur jadi nama belakangku, selamanya begitu, sampai dia datang dan membawaku pada kenyataan mimpi yang menepi.
Lalu kugenggam hangatmu, kubuntal pada sisi hati. berharap dapat kubagi dengannya pada musim nanti. Mungkin bisa dilebur dengan senyum dan sapa, karena aksara-aksara kini terpenjara. Entah bila ia bisa lepas kembali menjadi diri sendiri.