Senin, 05 November 2012

NURFAJRIAH, sebuah nama kekal namun tak dikenal



Menemukan langit pada titik dimana kecemasan masih tersisa dan aku mengabaikannya dengan segala senyum. Lalu ketika malam datang, kembali tanya-tanya itu duduk disampingku.  Diam tapi menggerakkanku untuk mencari jawab. Ah, sunyi... mengapa kau begitu setia selama ini? Sekeras mungkin keteriakkan isi jiwa namun kau hadang di depan pintu. Lalu aku kembali kelu.




Perjalanan ini demi melawanmu.  Daya pengabaian terbesar dengan mengerahkan segala harap sementara waktu.  Menerjang malam yang terasing dari peradaban.  Lalu menyambut surya dengan pelukan terhangat pada pagi yang sebenarnya begitu beku.




” Aku rindu..rindu yang tak pernah terhenti waktu”,  begitu kuratapkan pada pelukan biru dan dalam hening. Kau terlanjur jadi nama belakangku, selamanya begitu, sampai dia datang dan membawaku pada kenyataan mimpi yang menepi.


 Lalu kugenggam hangatmu, kubuntal pada sisi hati. berharap dapat kubagi dengannya pada musim nanti. Mungkin bisa dilebur dengan senyum dan sapa, karena aksara-aksara kini terpenjara. Entah bila ia bisa lepas kembali menjadi diri sendiri.