BERANGKAT!
Ya, udah. Sekarang telfon Surjo, suruh dia datang, ga bawa mobil engga apa-apa, kita ngeteng aja.
“Hallo, Jo.. Lo jadi ikut engga? Kita tetap berangkat nih, ngeteng. Lo kalo mau kita tungguin disini.” Teguh bicara tanpa panjang lebar, pulsa mahal katanya.
“Sorry ya, soal mobil gue yang tiba-tiba ngadat. Tunggu gue deh, sejam lagi gue sampe disana…”
Akhirnya waktu menunggu ditambah lagi. Tapi setidaknya Opi tidak kecewa. Sambil menunggu Surjo, kita mulai diskusi kecil masalah teknis perjalanan ngeteng ini. kami memutuskan memutar haluan, tidak jadi ke Anyer, karena route anyer sedikit rumit dengan ngeteng, tak ada yang pengalaman ke anyer dengan ngeteng pula. Ada usul kita ke puncak aja, yang deket, atau kemana aja deh, yang penting engga pulang ke rumah. Opi pasrah.
Aku agak ragu kalau ke puncak. Sudah sore dan sebagian besar kita engga begitu tertarik dengan lokasi yang akan dituju.
Sampai akhirnya Surjo tiba belum juga ada keputusan. Kami memandangi wajah Surjo yang berkeringat. Tiba-tiba Begenkpun membisikkan sesuatu ke Dina. Entah apa. Tapi setelah itu Dina memberi saran.
“ Eh, kita ke Pelabuhan Ratu aja yuk, disana ada Sodara gue, jadi kita bisa nginep gratis.”
Tidak memakan waktu lama untuk setuju dengan rencana itu. Teknis keberangkatannya kita serahkan ke Begenk. Dialah orang yang sudah pengalaman dan bertanggungjawab atas perjalanan ini.
Baiklah, sudah pukul 17.45. Kita magrib di Bogor aja. Dari kampus kita naik kereta aja. Begitu penjelasan Begenk sebelum berangkat.
Akhirnya kami berangkat dengan sedikit tersenyum. Aku sendiri agak deg-degan, sedikit cemas, tapi tidak kunampakkan pada mereka. aku tak akan mengecewakan opi atau membuat suasana jadi tidak asyik lagi.
Entah apa yang ada di benak mereka, di kereta Opi sudah mendapatkan semangat penuh dan mulai lagi kejailannya. Sedangkan aku masih sedikit cemas, hanya sedikit, tapi itu mengganggu. Terkadang aku hanya menimpali sekenanya saja segala canda mereka. Otakku mulai membayangkan bahwa ketika tiba di Pelabuhan ratu mungkin akan tengah malam. Aku tidak suka dengan perjalanan malam hari ini, apalagi bukan daerah yang kita kenal betul. Para lelaki itu, apakah benar mereka bisa diandalkan dalam perjalanan ini. Makin lama aku makin jadi paranoid, entah... apakah mereka bisa membaca semua itu dari sikap diamku.
Dari terminal Bogor kami naik bis lagi, berangkat menjelang Isya. Hatiku makin tak karuan. Perjalanan sekitar 3 jam, senyap malam sudah menyurutkan kejailan Opi, maka tak ada lagi riuh rendah canda kami. suasana itupun membuatku tambah kecut dari menit ke menit. Sementara jarak sudah semakin jauh dari Bogor. Akupun tak sempat memperhatikan daerah yang kami lalui, tak ada gunanya pula karena hatiku sedang dag dig dug. Mungkin tak satupun dari kami tahu daerah itu, kecuali Begenk. Kenyataannya kita sedang menelusuri bukit untuk segera turun lagi ke daerah pantai itu. Para penumpang juga saling diam, beberapa telah lelap. Sesekali hanya supir bis yang berteriak pada kondukturnya.
Opi memilih duduk sebangku denganku. Surjo dan teguh, sedangkan Dina sudah Pasti dengan Begenk. Kulihat mereka satu persatu. Aku yakin pikiran mereka tak satupun yang sama denganku. Walkman nyaris tak lepas dari telingaku, berulang kali memutar album Mr.Big. Opi nampak sudah mulai lelah atau mungkin linglung dengan perjalanan ini. Entahlah, aku tak sempat menangkap raut wajahnya karena hari sudah mulai gelap, tidak juga pada yang lain yang duduk agak jauh di belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Mungkin kami adalah dua orang penakut yang bersatu menjadi orang pemberani untuk perjalanan ini. Mungkin....
Dan Pelabuhan itu ada Ratunya..
Tiba dikawasan pantai itu sudah sekitar pukul 10 malam. Seturun dari bis tukan ojek menyerbu kami. Kami menunggu perintah dari Begenk mesti kemana. Sementara itu Opi bertambah kecut dengan kelakuan tukan ojek yang berani menarik kita supaya mau naik ojeknya. Opi berteriak agak pelan, “engga Bang..!”
“Masih Jauh Din?” kupastikan tanya itu kepada Dina.
“Iya, kayaknya kita harus naik ojek, karena angkutan umum udah engga ada jam segini.”
Hufff... ini yang membuatku khawatir sebenarnya. Ojek bukan transportasi yang aman dan nyaman untuk selarut ini, apalagi di daerah yang kita tidak kenal dengan baik. Akhirnya kita naik ojek satu persatu. Opi tidak mau naik sendiri, ajakan tukan ojek yang mulai kasar membuat Opi takut dan berpegangan denganku. Sementara para tukan ojek itu semakin agresif mengajak kami naik kendaraan bebeknya.
“Engga, Opi mau berdua ama Uni aja..”, opi mencengkram lenganku lebih keras lagi. Akhirnya Opi naik bersamaku, alias bertiga dengan tukang ojek.
Setelah dipastikan semua sudah aman, Begenk memberi perintah berangkat. Opi memelukku dari belakang sangat erat. Aku berusaha menghilangkan rasa takut yang sudah ada sejak berangkat tadi. Kupastikan dalam hatiku bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Maka dimulailah konvoi ojek menelusuri pesisir pantai itu. Demi menghilangkan cemas aku memantau motor-motor yang lain. Aku mulai takut karena motor kami telah didahului oleh motor-motor lain. Begenk yang menjadi penuntuk araqh tentu saja di depan sekali, sebab dia yang tahu daerah ini. Kulihat ke belakang sudah tidak ada motor lagi. Terang saja motor kami lambat, muatannya lebih berat dari yang lain. Dalam hati aku hanya istighfar, semoga Allah melindungi kami para perempuan ini.
Tak lama aku melihat semua motor berhenti dan berkumpul. Bukan menunggu kami yang paling belakang, melainkan Begenk merasa sudah tersesat. Ia tidak bisa menemukan rumah yang dituju. Dinapun sebagai orang yang mengaku punya saudara disini juga tidak begitu mengerti.
Hah? Engga ketemu? Gimana sih, katanya tau daerah sini. Lo tanggung jawab dong Genk. Udah tengah malam nih...!, emosiku sudah tak bisa dibendung lagi, kecemasanku memuncak.
“Ya Udah...” kata Opi, “kita cari penginapan kecil aja disini...”
Kami setuju dengan usul Opi itu. Aku rasa uang kita sangat cukup untuk penginapan kecil. Tapi Rupanya Begenk masih penasaran.
“Jangan, kalian tunggu disini aja dulu biar gue yang cari sama ojek ini..”
“Heh! Tunggu gimana maksud lo? Lo suruh kita cewek-cewek disini? Sementara lo nyari tanpa kepastian gitu?”, aku segera turun dari Motor dan mencoba menarik nafas panjang.