Jumat, 25 September 2009

HANYA KAMI YANG TAHU (2)

BERANGKAT!

Ya, udah. Sekarang telfon Surjo, suruh dia datang, ga bawa mobil engga apa-apa, kita ngeteng aja.

“Hallo, Jo.. Lo jadi ikut engga? Kita tetap berangkat nih, ngeteng. Lo kalo mau kita tungguin disini.”  Teguh bicara tanpa panjang lebar, pulsa mahal katanya.

“Sorry ya, soal mobil gue yang tiba-tiba ngadat. Tunggu gue deh, sejam lagi gue sampe disana…”

Akhirnya waktu menunggu ditambah lagi. Tapi setidaknya Opi tidak kecewa. Sambil menunggu Surjo, kita mulai diskusi kecil masalah teknis perjalanan ngeteng ini. kami memutuskan memutar haluan, tidak jadi ke Anyer, karena route anyer sedikit rumit dengan ngeteng, tak ada yang pengalaman ke anyer dengan ngeteng pula. Ada usul kita ke puncak aja, yang deket, atau kemana aja deh, yang penting engga pulang ke rumah. Opi pasrah.

Aku agak ragu kalau ke puncak. Sudah sore dan sebagian besar kita engga begitu tertarik dengan lokasi yang akan dituju.

Sampai akhirnya Surjo tiba belum juga ada keputusan. Kami memandangi wajah Surjo yang berkeringat. Tiba-tiba Begenkpun membisikkan sesuatu ke Dina. Entah apa. Tapi setelah itu Dina memberi saran.

“ Eh, kita ke Pelabuhan Ratu aja yuk, disana ada Sodara gue, jadi kita bisa nginep gratis.”

Tidak memakan waktu lama untuk setuju dengan rencana itu. Teknis keberangkatannya kita serahkan ke Begenk. Dialah orang yang sudah pengalaman dan  bertanggungjawab atas perjalanan ini.

Baiklah, sudah pukul 17.45. Kita magrib di Bogor aja. Dari kampus kita naik kereta aja. Begitu penjelasan Begenk sebelum berangkat.

Akhirnya kami berangkat dengan sedikit tersenyum. Aku sendiri agak deg-degan, sedikit cemas, tapi tidak kunampakkan pada mereka. aku tak akan mengecewakan opi atau membuat suasana jadi tidak asyik lagi.

Entah apa yang ada di benak mereka, di kereta  Opi sudah mendapatkan semangat penuh dan mulai lagi kejailannya. Sedangkan aku masih sedikit cemas, hanya sedikit, tapi itu mengganggu. Terkadang aku hanya menimpali sekenanya saja segala canda mereka. Otakku mulai membayangkan bahwa ketika tiba di Pelabuhan ratu mungkin akan tengah malam. Aku tidak suka dengan perjalanan malam hari ini, apalagi bukan daerah yang kita kenal betul. Para lelaki itu, apakah benar mereka bisa diandalkan dalam perjalanan ini. Makin lama aku makin jadi paranoid, entah... apakah mereka bisa membaca semua itu dari sikap diamku.

Dari terminal Bogor kami naik bis lagi, berangkat menjelang Isya. Hatiku makin tak karuan. Perjalanan sekitar 3 jam, senyap malam sudah menyurutkan kejailan Opi, maka tak ada lagi riuh rendah canda kami. suasana itupun membuatku tambah kecut dari menit ke menit. Sementara jarak sudah semakin jauh dari Bogor. Akupun tak sempat memperhatikan daerah yang kami lalui, tak ada gunanya pula karena hatiku sedang dag dig dug. Mungkin tak satupun dari kami tahu daerah itu, kecuali Begenk. Kenyataannya kita sedang menelusuri bukit untuk segera turun lagi ke daerah pantai itu. Para penumpang juga saling diam, beberapa telah lelap. Sesekali hanya supir bis yang berteriak pada kondukturnya.

Opi memilih duduk sebangku denganku. Surjo dan teguh, sedangkan Dina sudah Pasti dengan Begenk. Kulihat mereka satu persatu. Aku yakin pikiran mereka tak satupun yang sama denganku. Walkman nyaris tak lepas dari telingaku, berulang kali memutar album Mr.Big. Opi nampak sudah mulai lelah atau mungkin linglung dengan perjalanan ini. Entahlah, aku tak sempat menangkap raut wajahnya karena hari sudah mulai gelap, tidak juga pada yang lain yang duduk agak jauh di belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Mungkin kami adalah dua orang penakut yang bersatu menjadi orang pemberani untuk perjalanan ini. Mungkin....

Dan Pelabuhan itu ada Ratunya..

 Tiba dikawasan pantai itu sudah sekitar pukul 10 malam. Seturun dari bis tukan ojek menyerbu kami. Kami menunggu perintah dari Begenk mesti kemana. Sementara itu Opi bertambah kecut dengan kelakuan tukan ojek yang berani menarik kita supaya mau naik ojeknya. Opi berteriak agak pelan, “engga Bang..!”

“Masih Jauh Din?” kupastikan tanya itu kepada Dina.

“Iya, kayaknya kita harus naik ojek, karena angkutan umum udah engga ada jam segini.”

Hufff... ini yang membuatku khawatir sebenarnya. Ojek bukan transportasi yang aman dan nyaman untuk selarut ini, apalagi di daerah yang kita tidak kenal dengan baik. Akhirnya kita naik  ojek satu persatu. Opi tidak mau naik sendiri, ajakan tukan ojek yang mulai kasar membuat Opi takut dan berpegangan denganku. Sementara para tukan ojek itu semakin agresif mengajak kami naik kendaraan bebeknya.

“Engga, Opi mau berdua ama Uni aja..”, opi mencengkram lenganku lebih keras lagi. Akhirnya Opi naik bersamaku, alias bertiga dengan tukang ojek.

Setelah dipastikan semua sudah aman, Begenk memberi perintah berangkat. Opi memelukku dari belakang sangat erat. Aku berusaha menghilangkan rasa takut yang sudah ada sejak berangkat tadi. Kupastikan dalam hatiku bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Maka dimulailah konvoi ojek menelusuri pesisir pantai itu. Demi menghilangkan cemas aku memantau motor-motor yang lain. Aku mulai takut karena motor kami telah didahului oleh motor-motor lain. Begenk yang menjadi penuntuk araqh tentu saja di depan sekali, sebab dia yang tahu daerah ini. Kulihat ke belakang sudah tidak ada motor lagi. Terang saja motor kami lambat, muatannya lebih berat dari yang lain. Dalam hati aku hanya istighfar, semoga Allah melindungi kami para perempuan ini.

Tak lama aku melihat semua motor berhenti dan berkumpul. Bukan menunggu kami yang paling belakang, melainkan Begenk merasa sudah tersesat. Ia tidak bisa menemukan rumah yang dituju. Dinapun sebagai orang yang mengaku punya saudara disini juga tidak begitu mengerti.

Hah? Engga ketemu? Gimana sih, katanya tau daerah sini. Lo tanggung jawab dong Genk. Udah tengah malam nih...!, emosiku sudah tak bisa dibendung lagi, kecemasanku memuncak.

“Ya Udah...” kata Opi, “kita cari penginapan kecil aja disini...”

Kami setuju dengan usul Opi itu. Aku rasa uang kita sangat cukup untuk penginapan kecil. Tapi  Rupanya Begenk masih penasaran.

“Jangan, kalian tunggu disini aja dulu biar gue yang cari sama ojek ini..”

“Heh! Tunggu gimana maksud lo? Lo suruh kita cewek-cewek disini? Sementara lo nyari tanpa kepastian gitu?”, aku segera turun dari Motor dan mencoba menarik nafas panjang.

Sabtu, 09 Mei 2009

HANYA KAMI YANG TAHU…

MENUNGGU

Bagi mahasiswa, sejatinya bulan Juni adalah bulan pulang kandang atau libur panjang sekalian, tak ada yang mau datang ke kampus kecuali para maniak kantin. Ada saja alasan mereka ke kampus, dari mulai urusan skripsi, masalah organisasi, maslaah nilai yang harus diurus ke jurusan, tugas akhir atau apalah, yang jelas kantin kampus tidak bisa dikatakan sepi pada masa awal liburan panjang ini.  Ali tak pernah absen, menerima permintaan minuman. Begitu juga para penghuni kantin yang sedang main kartu. Kartu yang mereka mainkan juga lengkap, dari remi sampai ceki. Pendek kata, situasi kantin nyaris normal, walau tak sepadat biasa.

Aku  berada disana, di salah satu payung yang dipakai sebagai endorser produk kopi, membunuh waktu saat menunggu. Semua orang pasti setuju kalau menunggu adalah hal yang paling membosankan di dunia ini, apalagi  menunggu sendiri. Tapi siang itu aku tidak menunggu sendiri, ada dua orang perempuan lagi  duduk sejajar di kursi panjang, di bawah payung kantin atas. Cuaca petengahan Juni lumayan panas tapi kadang tidak begitu terasa dibawah payung itu karena kita lebih banyak mendapatkan angin.  

Opi dan Dina, dua orang yang paling sering bersamaku selama 3 tahun kuliah disini. Hari ini kita merencanakan pergi ke Anyer sebagai momen perpisahan karena Opi mau migrasi ke fakultas seberang danau. Aku  sendiri tidak setuju dengan penamaan momen itu. Buatku persahabatan tidak mengenal kata perpisahaan. Buatku momen itu adalah moment senang-senang bersama, karena kita tahu setelah ini waktu kita akan sangat terbatas untuk mendapatkan momen semacam itu. Alur hidup kita harus segera dibenahi dengan mengambil jalan sendiri-sendiri. Tak ada yang harus disesali bukan?

Ups, hampir lupa, sebenarnya ada satu kaum adam yang nimbrung dibawah payung siang itu, dia adalah Begenk. Aku  engga tahu nama jelasnya, tapi Dina mengenalkan ke aku dengan nama Begenk, karena memang dia kurus tinggi tak terkendali, kontras dengan Dina yang pendek dan engga terlalu kurus. Agak bingung juga kenapa seorang Dina yang cantik bisa jatuh cinta dengan lelaki sejenis ini. Ah, aku lupa.. dina seorang easy lover. Catatan perjalanan cintanya memang selalu begitu, tak hanya easy lover, tapi easy come easy go. Tak pernah ada alasan yang khusus untuk cinta. Apa itu bisa dikategorikan cinta serampangan? Entahlah, aku tak pernah menyebutkan istilah itu kepada Dina, tapi dia mengakui bahwa dia tidak kuat sendiri. Uhhh..

Berbeda dengan Opi, wajahnya nampak lugu apalagi ketika berbicara. Tapi jangan percaya dengan wajah dan gaya bicaranya, banyak hal dahsyat yang terkadang keluar dari mulutnya. Hal-hal yang diluar dugaan. Tapi soal cinta, Opi memang tak gampang. Walaupun setengah mati seorang lelaki mengejarnya, dia masih punya pikiran sehat. Catatan pacarannya baru sekali, itu juga waktu SMA untuk lucu-lucuan saja. Sikap Opi itu beralasan, karena orangnya menerapkan aturan ketat masalah pergaulan. Makanya untuk ijin keluar kali ini agak susah didapatkan dari orangtuanya.

Dan orang yang sedang kita tunggu adalah para kaum Adam juga, Teguh, Surjo dan Roy. Nah lohhh… ada apa dengan para junior itu? kok mereka bisa gabung dengan para senior untuk acara senang-senang ini? Itulah hebatnya kami, tak pandang senior junior, kalo hubungan pertemanan dan senang-senang tidak terbatas oleh angkatan. Toh kita sepakat untuk perjalanan ini, dan mereka ikut dalam rangka menjadi tim hore, biar tambah seru.

Teguh adalah junior kami, tapi sekali lagi, hierarki tidak penting bagi kami.  Teguh lebih dikenal sebagai anak musolla, tapi kena racun pergaulan kami, racun dengan kadar rendah. Dia tidak resis dengan orang macam kami, lagi pula dia juga menularkan racunnya sendiri pada kami. Begitulah hubungan simbiosis mutualisme kami. Ia berperawakan sedang, tidak terlalu kurus dan hobi sekali berdebat denganku, walau dia bilang hanya debat kusir.

Surjo dan Roy lebih junior lagi, angkatannya di bawah Teguh. Sebenarnya dari segi umur Surjo bisa setingkat dengan teguh. Tapi karena gagal masuk kedokteran, dia putar haluan ke Fakultas Sastra dan bertemulah dengan kami. Surjo sejenis dengan Teguh, anak alim yang kena racun kami. Bahkan dia selalu kami panggil “ voulez vous coucher avec moi”. Ah dia pasti sangat menyesal karena telah melakukan gaya nama itu dengan sepenuh hati. Siapa sangka pula dia bisa sepenuh hati jadi kebanggan senior pada waktu itu?

Dan Roy, cowok pendiam dengan kacamata, bertubuh semampai. Aku lebih sering memanggilnya SupeRoy karena dia lebih mirip Superboy. Ia sudah lebih dulu migrasi ke Tehnik, sedangkan Surjo, cita-citanya jadi dokter mesti kandas karena jatah UMPTN sudah habis.

Dan beginilah waktu menunggu kami. Opi selalu mengeluarkan gurauan garing dengan cara ketawanya memegang bibir.

“ Ih, opi bingung deh, orang aneh kok bisa pacaran sama orang aneh ya?”

Dari kejauahan kami melihat pasangan mahasiswa berangkulan. Sebenarnya mereka tidak terlalu aneh. Mereka berkaca mata dan tanpak beda dengan mahasiswa lain yang lebih gaul, sementara mereka, dicurigai hanya berdua saja, jarang sekali berada diantara mahasiwa lain. Secara berlebihan orang lain menilai mereka aneh.

 Dina menimpali Opi dengan ketawa kecikikan,” ya justru karena sama-sama aneh makanya mereka pacaran, bego lo Pi..”

Aku   hanya ikut senyum sama kelakuan mereka. Aku  tahu, inilah ekpresi garingnya kala menunggu.

“iya, tapi Opi mah heran aja, kalo mereka pacaran ngomongin apa aja ya?”

“Engga pake ngomong kali Pi, langsung action aja..”

 “hahahahah”  semua tertawa tarbahak-bahak.

“Kalo elo Pi, emangnya kalo pacaran ngomongin apa aja ? Oh ya, Opi kan Jomblo forever ya…? Hahahaha…

“Ih,  tau engga, Opi waktu dulu pacaran diajak ke Ancol, nontonin yang pacaran…” sambil ketawa cengengesan.

“Ngapain lo Cuma nonton doing?” celetuk Dina.

“Belajar…!” berkata serius dan sok polos, tapi kemudian ketawanya meledak, diikuti  tawa kami  sambil menghentak tanah dan memegang perut. Kali ini lawakan Opi sama sekali engga garing.

“Terus? Bisa engga?” Tanya Dina tambah konyol. Sementara Begenk disampingnya tampak malu-malu untuk tertawa karena engga berani ngeluarin joke yang lebih gila lagi, atau dua cewek ini memang sudah sangat gila?

“Bisa apanya?” Tanya Opi dengan wajah polos.

“Ya, bisa niruin saat itu engga? Hahahahhah ketauan lo..!”

“Ih, engga! Sumpah! Kita Cuma nonton dan cekikikan aja kok ngeliat mereka.”

Perlahan tawa kami mereda, kemudian kembali teringat bahwa kami sedang menunggu orang-orang itu yang tak kunjung datang.

Spot kami memang istimewa, bisa melihat begitu banyak hal ke parkiran dan ke jalan  serta mahasiswa kampus sebelah yang kadang-kadang sengaja nyasar ke kantin kami tercinta ini.

“Kita janjian jam 2 kan kemarin?” Opi mulai menggaruk kepala.

“Mmm… iya,”  kulihat jam di HP sudah 14.30. kami melihat lagi ke arah parkiran, arah kedatangan. Tak beberapa saat ada mahasiswi dengan sepatu hak tinggi melintas menuju parkiran.

Tak..tok..tak..tok..tak..tok…

“Eh, tuh lihat… kira-kira cewek itu mobilnya merek apa ya?”  keusilan Opi dimulai lagi. Setelah matanya memandang mengamati perempuan itu dari atas sampai bawah.

“Eh, engga ke parkiran kok…” sahutku dengan polos. Melihat perempuan itu keluar dari area parkiran. Dugaan kami meleset, dia tidak menuju salah satu mobil yang ada di parkiran.

“Lah, jadi tampang senecis itu naik apa? Naik kereta?”celetuk Opi lagi.

“Wuhahahah, mana mungkin naik kereta, bisa patah itu hak sepatu gara-gara lari ngejar kereta..” Dina tidak mau kalah menambahkan celaan.

“ … dan betisnya bisa pecah tuh gara-gara berdiri di dalam kereta…!” imbuh Opi lagi.

Lalu dengan tenang aku menjawab, “ engga, dia naik debi, lagi…!”

“Hahahaha.. itu lagi! Bisa-bisa kering dia gara-gara nungguin debi di Kober” tawa kami meledak lagi, lupa kalau sedang bosan menunggu para lelaki itu. Si begenkpun sudah mulai garuk-garuk kepala melihat kelakuan kami.

Tiba-tiba Opi berseru dengan wajah polos lagi. “Ih… Uni”

“ Apa?”  kali ini aku heran dengan ekspresi mukanya.

“ Pantesan betah duduk disitu, lagi ngumpanin si Blanc, ya?

“ Hah?” mataku melotot, nyaris mencari posisi tersangka itu, tapi kuurungkan. Aku sudah mengira posisinya dimana, dia ada di dalam kantin, tempat paling aman untuk mengamati kami di luar, atau siapapun yang ingin dinikmati, karena  badanya bisa disembunyikan dari dalam. Ah, tidak ada yang lebih penting dari rencana kami hari itu.

“ Ih, Uni sok cuek, itu diliatin blanc tuh… liatin balik dong…” Opi menggoda semakin parah. Berharap bahwa mukaku akan memerah sedangkan aku tidak terpancing  dengan hal itu. Aku tahu, kami tidak pernah kehabisan bahan untuk dicela. Tidak ada orang lain yang dicela, salah satu dari kamipun jadilah

 Kemudian kami terdiam sejenak, dari jauh nampak Teguh menuju ke payung kami.

“ Eh, di Roy lagi di perjalanan dari Surabaya dan Surjo engga bisa bawa kijangnya.. gimana dong..?” belum duduk tapi Teguh sudah memberikan berita buruk.

“ Yahhh, Opikan udah ijin mau pergi hari ini ke Papa, susah lagi dapat ijin ini,” Opi memperlihatkan wajah kecewanya, tapi nyaris datar juga. Siapa juga yang menyangka rencana kita gagal hari ini. “Tapi rencana hari ini tidak boleh gagal. Tidak boleh!” Begitu kira-kira Opi menuliskan kata di wajahnya. Ia segera berdiri, mundar mandir. Berpikir.

 

BERSAMBUNG...

Selasa, 10 Maret 2009

Audisi Pementasan Tragedi Macbeth karya William Shakespeare

Host:
Type:
Network:
Global
Date:
Monday, March 30, 2009
Time:
5:00pm - 8:00pm
Location:
Ruang 9204, Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
City/Town:
Depok, Indonesia
Phone:
02194843708
Email:


Dibuka audisi terbuka untuk semua peran dalam drama Tragedi Macbeth karya William Shakespeare, terjemahan dan sutradara oleh I. Yudhi Soenarto, yang akan dipentaskan bulan November dalam rangka merayakan ulang tahun Teater Sastra UI yang ke 25.

Bagi yang berminat, dapat mengirimkan sms dengan format Macbeth<spasi>Nama<spasi>Fakultas<spasi>jurusan<spasi>angkatan<spasi>peran yang diinginkan.
ke nomor 021-94843708 atau 08561184400

Dapat juga daftar langsung di stand yang akan dibuka mulai tanggal 16 Maret-27maret di selasar gedung IX FIB UI.
Untuk info lebih lanjut, hubungi Wanodya di 021-94843708.


Selasa, 17 Februari 2009

Selamat Bulan February

17 February 2009

 

Ada apa dengan bulan ini ya  Pooh? kemarin Mas Chan mengucapkan selamat bulan February. Aku jadi teringat sesuatu. Satu saat, aku lupa tahun berapa, yang jelas setelah produksi OBDS dan seblum Guci Yang Pecah. Saat kamu sesekali masih menyambangi teater sastra.

 

Satu hari di awal bulan February, aku berkata begini:

“Phuls, untuk tahun ini aku mohon jangan memberi ucapan selamat pada tanggal 9 itu.”

Kamu heran, “kenapa?”

“engga, lagi engga pengen diingatkan tentang hari itu aja. Takut sedih aja, karena engga ada apa-apa yang aku capai setahun ini, tidak ada peningkatan kualitas hidup..”

“baiklah..” tanpa berdebat kamu setuju saja.

 

Tapi ketika hari itu datang kamu mengingkari janji itu bukan?

“Maaf Mel, aku engga tahan untuk tidak mengucapkan itu, tolong jangan larang aku. Hepi bersdey...!” serumu tanpa memberi kesempatan aku berkata lagi.“Baiklah, karena sudah keluar seperti kentut, maka aku mengucapkan terima kasih…” lalu kita tertawa lebar lagi. Aku juga sudah lupa dengan keinginan untuk tidak diingatkan tentang hari itu, walaupun aku berusaha sembunyi, tapi ucapan dan iklas itu memang seperti kentut, tak bisa ditahan keluarnya.

 

Hari itu aku menerima anugrah yang seharusnya aku syukuri sejak awal. Anugrah bahwa aku punya teman dan sahabat yang banyak, anugrah bahwa aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup.

 

Kiki aku teringat lagi, apakah kau menceritakan semua itu pada Chan, sehingga can mengucapkan Selamat bulan February? Ucapan itu terdengar lebih manis dari sekedar hepi bersdey. Hey… bukankah Bulan ini memang milik kita? Aku merayakan hari lahir dan momen wisuda, sedangkan kamu merayakan hari peresmian pasangan jiwamu? Semoga Tuhan menganugarahkan bulan ini juga bagiku untuk peresmian pasangan jiwaku, agar bulan ini benar-benar jadi milik kita. Wallahu’allam bissawab…

 

Yang jelas February itu jadi bulan yang lumayan berat bagi perasaan, saat hujan rajin sekali menyambangi kita, kadang banjir menjadi headline media, saat radio memainkan lagu-lagu kenangan.  Semua terasa berat di perasaan ini.

 

 

 selamat bulan february ya ria dan chan,

Jumat, 06 Februari 2009

Reality Show, tapi BOONG!!!!!

ada banyak reality show di tv yang mengenai pengintaian2 masalah cinta gitu. Kita berpolemik sedikit waktu itu, ada yang percaya kalo itu Cuma scenario, ada juga yang percaya itu kejadian beneran.
Buat orang yang percaya, hari ini gue katakana sesuatu ya… tadi gue engga sengaja nonton acara itu. Lokasi pengintaiannya kampus gue. Gue kenal sekali sudut2 di kampus gue  itu ( Sebut aja UI depok ).tololnya, ceritanya mereka sedang mengintai cowoknya yang selingkuh dengan sahabatnya di kampus, dan mereka pergi kuliah sama-sama. Dan lo tahu lokasi yang mereka bilang kampus itu, tempat mereka diceritakan baru selesai kuliah itu?  Lokasinya Mesjid UI! Hahahahah begonya… mereka Cuma shoot gerbang aja. Takut ketahuan lebih detail lagi boongnya kali ya

Kamis, 05 Februari 2009

Unsent Messages: I Love You All

February 09


Dear Pooh,
Aku kehilangan kata lebih parah kali ini
Disini ada rindu yang menggumpal, ada beribu cerita tentang hariku
Ada banyak berita yang ingin kusampaikan padamu
Tapi tak terkatakan lagi.
Yang kutahu bunga matahari sedang tumbuh diatas pusaramu

Dear Ria,
Sudah kau tandai berapa tanda cek yang ada di cerita hidup kita? Aku sudah.
Kau tahu dimana batas timur dan barat?
Di kota ini tentunya, tempat kita berpijak dan engga beranjak
Tetap tak mengerti kemana takdir akan membawa kita.
Tugas kita hanya berusaha bukan?

Dear Dina,
Jarak kita begitu absurd ya,
Kita seperti siluman online
Bertemu hanya dengan sebentuk nama dan saling sapa lalu menghilang lagi?
Hey, apa kabarmu disana?
Benarkan tak ada sedetik waktu untuk kita berbagi cerita lagi?

Dearest …
Masih segar jejak ceritamu disini
Maukah kau membawakan sejuta senyum damai itu untukku?
Walau mungkin kau tak kuijinkan masuk?


Dear Opi, Emi, Bejo, Auld an Gugun.
Waktu kita bersama selalu terlewatkan dengan tawa dan berbagi cerita.
Sadarkan kalian bahwa kita belum pernah foto bersama?



Rabu, 28 Januari 2009

Wisuda, one of stupid idea in this life… may be!

Engga tahu kenapa, kok ketika gue melihat kembali foto-fot wisuda gue malah berpikir ini salah satu hal terbodoh yang pernah gue saksikan. Entahlah, gue mungkin engga terlalu tahu makna acara formal satu itu. Buat gue kok jadi lebih seru foto-foto waktu lulus SMA ya? Coret2an, walau gue cuma mau mencoret baju teman dan engga mau baju gue dikotori. Foto seru-seruan ama guru dan bercanda buat  terakhir kalinya di sekolah, foto dengan seragam abu-abu, sebelum menjalani dunia pakaian bebas mutlak di kampus nanti…

 Kalopun ada acara formal, tetap terasa manis karena itu adalah saat pertama kali kita tampil habis-habisan di depan guru.

Kalo, pas wisuda? Mmm… gue kok menangkap hal-hal aneh ya?

Misalnya, cewek bangun pagi-pagi buat ke salon ( itu juga maksa tukang salon) buat berkonde dan berkebaya ria nanti, make-up semaksimal mungkin, pokoknya dandan paling eksis dah, jangan lupa toga, seragam hitam yang bikin gerah, tambah bikin make-up gue luntur aja tuh, sementara kipas tangan engga maksimal.

Yang palin lucu adalah ketika ke balairung, kebanyakan orang pada telat, apalagi nyari parkir susah banget.

Terus terang, waktu itu niat gue ke balairung adalah nagih piutang lagu Gaudeamus igitur dari anak baru, secara dulu gue harus latihan tiap hari nyanyiin lagu itu. Malah sempet kena panggilan sama pak dibyo via mikrofon, gara-gara ketangkep masih santai aja di depan pintu balairung sambil makan. Dan gue engga tahu kalo gue lagi jadi perhatian satu angkatan..(hebat banget gue hari itu).

Kebetulan hari itu acara di fakultas pagi dan balairung sore, jadi untuk acara balairung, gue pikir lebih baik gue suruh ortu gue pulang duluan daripada ikut-ikutan rusuh di balairung.

Lalu, pas lagu piutang gue itu berkumandang, orang-orang dengan baju kerajaan masuk  dengan berbaris. Yang paling depan bawa tongkat. Setelah itu salah satu dari mereka pidato sangat singkat, Cuma mau bilang: “… sidang dibuka tok..tok..tok” ( or something like that), terus pasukan kerajaan keluar lagi, diringi dengan lagu lagi dari paduan suara anak baru plus.

Udah cuma segitu doang kan?

Selebihnya Cuma foto-foto, Kalo di fakultas ditambah ada acara makan-makan, itu juga berebutan..oh iya gue hampir lupa.. pidato dari perwakilan wisudawan..tapi engga ada yang fantastis dari pidato mereka dari tahun ke tahun, kecuali pidato Yaswin ketika gue jadi Maba dulu, gue lupa tepatnya tentang apa, tapi agak nyeleneh dan bikin heboh juga waktu itu.

Yang jelas wisuda itu buat orang tua,  seperti pembayaran hutang yang pernah tertunda. Kebanyakan orang juga secara engga sadar memilih alasan ini. bahkan konon di fakultas gue, demi menyenangkan hati orang tua, seorang mahasiswa yang sedang beperkara di jurusan dan sedang dalam proses keputusan DO, mengambil langkah nekat dengan ikut wisuda dan memboyong orang tuanya ke balairung UI, ia mengaku sudah lulus dengan ikut wisuda illegalinisiatif sendiri ( alias menipu orang tua sendiri ) demi membebaskan diri dari pertanyaan orang tua: “kapan wisuda?”

Untungnya orang tuanya memang tidak tahu seluk beluk wisuda di UI, dan percaya saja kalau anaknya sudah lulus. Toga bisa dipinjam, foto bisa dibuat tapi ijasah engga bisa juga didapat dengan seudah wisuda illegal itu, atau dia sudah menyiapkan ijasah palsu untuk ditunjukan orang tuanya..? kasihan ya…!

Minggu, 18 Januari 2009

Maryamah Karpov baru Promo?

Rating:★★
Category:Other

Pagi ini saya sempat menonton PAGI JAKARTA di O Channel. Tamu hari ini adalah Andrea Hirata dengan Maryamah Karpov yang sedang promo.
Hhmm.. kok baru promo ya? Udah berapa bulan beredar kok baru promo sekarang? Mungkin karena buku satu ini ajaib ya, sakin ajaibnya engga terdengar rekomendasi untuk membacanya dari orang yang sudah membeli buku. Kalo saya sih, engga recommend…

Buat saya, acara pagi ini memberikan jawaban dari pertanyaan saya selama ini. setidaknya acara ini memberikan informasi pada pembaca, meluruskan tuduhan-tuduhan yang ada selama ini, termasuk opini saya.

Dan inilah info yang saya serap pagi ini.
1. Pernyataan Andrea bahwa: ini buku inspired by true story, bukan based on true story. Jadi pada novel-novelnya ada fakta-fakta yang di dramatisir. ( ini yang menjadi duri dalam danging selama ini, mungkin pembaca memang harus diedukasi tentang gendre sastra) oke, saya beri tanda cek pada kotak yang tertulis “clear!”
2. Maryamah Karpov yang terbit sekarang sebenarnya ceritanya memang belum tuntas. (“clear!”) Jilid kedua buku ini yang menceritakan tentang Maryamah Karpov itu sendiri sebenarnya sudah selesai ditulis, tapi Andrea Sendiri memutuskan tidak akan menerbitkannya karena alasan pribadi. ( strategi pemasaran yang bagus tuh, bikin tambah penasaran. Tapi lebih bagus lagi memang lebih baik jangan diterbitkan, biar nanti filmnya jadi nampak Sesuatu yang baru yang belum tertebak oleh pembaca)
3. Pernyataan Andrea: “ itulah enaknya menulis bukan orang sastra, bisa lebih banyak eksperimen”, “….kalo bicara dengan orang sastra dunia jadi ribet, tidak bisa menikmati lagi” (bagaimanapun anda sudah nyebur ke dunia sastra, mau tak mau harus tau juga apa yang terjadi dengan dunia itu selama ini)


Jadi begitulah, tetralogi Laskar pelangi adalah novel yang terinspirasi dari kejadian nyata, semua tokoh nyata namun selalu ada fakta yang didramatisir yang membumbui karya ini, suka atau tidak suka akan fakta yang saya bold ini, saya masih memuji gaya menulis Andrea diluar Dramatisir dan inkonsistensi dan kekaburan fakta.

Kamis, 15 Januari 2009

5 Januari 2009 (mengenang Pooh)

Dear Pooh,
Sepanjang senja  ini aku mengaduk semua dokumen lama, mencari lagi foto-foto jadul kita. Ketemu! Aku dan kamu sedang pelukan, yang kuingat waktu itu adalah acara berbuka bersama TS yang pertama buatku, mendapati keluarga baru di TS, setelah merasa terdampar di fakultas sastra itu.
Napak tilas kemudian beralih ke agenda lamaku,  ada foto TS waktu kita latihan alam di  villa Gemala tahun 1998, nampaknya kronologi dari foto pertama yang kutemukan.
Kemudian  menjelang lembaran akhir, tertulis tanggal 9 feb 2003.  aku menulis semacam unsent message untuk orang-orang tedekatku. Maka inilah yang kutulis untukmu:
“Dear Ria & Ria,
Tak ada kata-kata yang terindah selain persahabatan yang jujur,
Andai kau bisa disini selamanya.”
( sesuatu  yang telah ditetapkan Allah bahwa aku mempunyai dua sahabat terdekat dengan nama yang sama)
Aku tak mampu menulis lebih panjang lagi saat itu. Aku hanya berharap kita bisa bersama seperti dulu, tapi siklus hidup tidak menghendaki demikian bukan? Kita harus terus berjalan, berlari… kamu dengan anak-anak didikmu, aku dengan segala rencana untuk meraih gelar S1.  Waktu itu tantangan hidup sepertinya baru dimulai, dan aku mempersiapkan diri untuk itu semua, dan aku tetap membutuhkanmu disini.
Dan segera takdir itu menolakku habis-habis. Kamu mendapat kesempatan untuk berkembang di Medan, merantau , bertualang atau apalah namanya. Mendapati dunia anak-anak lain disana.  Aku sangat sentimentil sekali menjelang keberangkatanmu, aku sedikit menangis seakan-akan kamu akan selamanya disana. Sejujurnya aku menangis karena aku tahu ke depan akan ada hal berat yang akan kujalani tanpa kamu. Lalu kita bertukar benda. Aku memberikan kalung perak dengan liontin dolphin kesayanganku,  kalung itu tidak pernah lagi kupakai setelah aku pakai jilbab, dulu  kalung itu adalah icon kesayangannku. Lalu kamu memberiku beberapa bros cantik untuk menghiasi jilbabku sebagai gantinya. begitu melankolis ya? dan dikemudian hari ternyata kamu kembali ke Jakarta setelah beberapa bulan disana, tak cukup setahun kau sudah tidak betah dengan system disana, aku sering menertawakan sikap sentimentilku yang terlalu itu.
Oh ya,  kamu menyempatkan diri untuk bertemu umi sebelum berangkat bukan? Umi gemes banget sama kamu, engga tahan mencubit pipi kamu, karena dari 4 anaknya engga ada satupun yang  badannya seberisi kamu.
Lalu kita ke Mal Kalibata, mal tergaring yang ada saat itu, tapi kita menemukan satu kaset, well… sebenernya aku yang rekomendasikan (ngomporin tepatnya) ke kamu supaya beli kaset itu, aku pikir musik dan liriknya “kamu banget” kamu terprovokasi juga, dan aku juga  beli dan dikemudian hari kamu mengakui bahwa menyukai semua lagu di album itu dan membeli lagi album selanjutnya dari grup band itu.
Dan kita pernah menyanyikan bersama lagu ini dengan gitarmu bukan?
"Once upon the time when the sky was covered with blue
Once upon the time when the sun was smiling too
We’re just common people with an ordinary look
We’re just common people with an ordinary love
Once upon the time when I felt in love with you…"
(Once Upon The Time, Mocca)
Dan kamu tahu juga kan, bahwa takdir juga berpihak pada keinginanku, kemudian hari aku akhirnya wisuda juga dan kamu mengancungkan jempolmu untuk keteguhan hati dalam perjuangan mencapai cita-cita.  Aku masih terus begitu, walau kadang kenyataan belum sepenuhnya berpihak padaku. Aku masih  seteguh yang dulu, dan butuh orang seperti kamu untuk mengingatkanku jika aku lupa pada tujuanku.