Sabtu, 09 Mei 2009

HANYA KAMI YANG TAHU…

MENUNGGU

Bagi mahasiswa, sejatinya bulan Juni adalah bulan pulang kandang atau libur panjang sekalian, tak ada yang mau datang ke kampus kecuali para maniak kantin. Ada saja alasan mereka ke kampus, dari mulai urusan skripsi, masalah organisasi, maslaah nilai yang harus diurus ke jurusan, tugas akhir atau apalah, yang jelas kantin kampus tidak bisa dikatakan sepi pada masa awal liburan panjang ini.  Ali tak pernah absen, menerima permintaan minuman. Begitu juga para penghuni kantin yang sedang main kartu. Kartu yang mereka mainkan juga lengkap, dari remi sampai ceki. Pendek kata, situasi kantin nyaris normal, walau tak sepadat biasa.

Aku  berada disana, di salah satu payung yang dipakai sebagai endorser produk kopi, membunuh waktu saat menunggu. Semua orang pasti setuju kalau menunggu adalah hal yang paling membosankan di dunia ini, apalagi  menunggu sendiri. Tapi siang itu aku tidak menunggu sendiri, ada dua orang perempuan lagi  duduk sejajar di kursi panjang, di bawah payung kantin atas. Cuaca petengahan Juni lumayan panas tapi kadang tidak begitu terasa dibawah payung itu karena kita lebih banyak mendapatkan angin.  

Opi dan Dina, dua orang yang paling sering bersamaku selama 3 tahun kuliah disini. Hari ini kita merencanakan pergi ke Anyer sebagai momen perpisahan karena Opi mau migrasi ke fakultas seberang danau. Aku  sendiri tidak setuju dengan penamaan momen itu. Buatku persahabatan tidak mengenal kata perpisahaan. Buatku momen itu adalah moment senang-senang bersama, karena kita tahu setelah ini waktu kita akan sangat terbatas untuk mendapatkan momen semacam itu. Alur hidup kita harus segera dibenahi dengan mengambil jalan sendiri-sendiri. Tak ada yang harus disesali bukan?

Ups, hampir lupa, sebenarnya ada satu kaum adam yang nimbrung dibawah payung siang itu, dia adalah Begenk. Aku  engga tahu nama jelasnya, tapi Dina mengenalkan ke aku dengan nama Begenk, karena memang dia kurus tinggi tak terkendali, kontras dengan Dina yang pendek dan engga terlalu kurus. Agak bingung juga kenapa seorang Dina yang cantik bisa jatuh cinta dengan lelaki sejenis ini. Ah, aku lupa.. dina seorang easy lover. Catatan perjalanan cintanya memang selalu begitu, tak hanya easy lover, tapi easy come easy go. Tak pernah ada alasan yang khusus untuk cinta. Apa itu bisa dikategorikan cinta serampangan? Entahlah, aku tak pernah menyebutkan istilah itu kepada Dina, tapi dia mengakui bahwa dia tidak kuat sendiri. Uhhh..

Berbeda dengan Opi, wajahnya nampak lugu apalagi ketika berbicara. Tapi jangan percaya dengan wajah dan gaya bicaranya, banyak hal dahsyat yang terkadang keluar dari mulutnya. Hal-hal yang diluar dugaan. Tapi soal cinta, Opi memang tak gampang. Walaupun setengah mati seorang lelaki mengejarnya, dia masih punya pikiran sehat. Catatan pacarannya baru sekali, itu juga waktu SMA untuk lucu-lucuan saja. Sikap Opi itu beralasan, karena orangnya menerapkan aturan ketat masalah pergaulan. Makanya untuk ijin keluar kali ini agak susah didapatkan dari orangtuanya.

Dan orang yang sedang kita tunggu adalah para kaum Adam juga, Teguh, Surjo dan Roy. Nah lohhh… ada apa dengan para junior itu? kok mereka bisa gabung dengan para senior untuk acara senang-senang ini? Itulah hebatnya kami, tak pandang senior junior, kalo hubungan pertemanan dan senang-senang tidak terbatas oleh angkatan. Toh kita sepakat untuk perjalanan ini, dan mereka ikut dalam rangka menjadi tim hore, biar tambah seru.

Teguh adalah junior kami, tapi sekali lagi, hierarki tidak penting bagi kami.  Teguh lebih dikenal sebagai anak musolla, tapi kena racun pergaulan kami, racun dengan kadar rendah. Dia tidak resis dengan orang macam kami, lagi pula dia juga menularkan racunnya sendiri pada kami. Begitulah hubungan simbiosis mutualisme kami. Ia berperawakan sedang, tidak terlalu kurus dan hobi sekali berdebat denganku, walau dia bilang hanya debat kusir.

Surjo dan Roy lebih junior lagi, angkatannya di bawah Teguh. Sebenarnya dari segi umur Surjo bisa setingkat dengan teguh. Tapi karena gagal masuk kedokteran, dia putar haluan ke Fakultas Sastra dan bertemulah dengan kami. Surjo sejenis dengan Teguh, anak alim yang kena racun kami. Bahkan dia selalu kami panggil “ voulez vous coucher avec moi”. Ah dia pasti sangat menyesal karena telah melakukan gaya nama itu dengan sepenuh hati. Siapa sangka pula dia bisa sepenuh hati jadi kebanggan senior pada waktu itu?

Dan Roy, cowok pendiam dengan kacamata, bertubuh semampai. Aku lebih sering memanggilnya SupeRoy karena dia lebih mirip Superboy. Ia sudah lebih dulu migrasi ke Tehnik, sedangkan Surjo, cita-citanya jadi dokter mesti kandas karena jatah UMPTN sudah habis.

Dan beginilah waktu menunggu kami. Opi selalu mengeluarkan gurauan garing dengan cara ketawanya memegang bibir.

“ Ih, opi bingung deh, orang aneh kok bisa pacaran sama orang aneh ya?”

Dari kejauahan kami melihat pasangan mahasiswa berangkulan. Sebenarnya mereka tidak terlalu aneh. Mereka berkaca mata dan tanpak beda dengan mahasiswa lain yang lebih gaul, sementara mereka, dicurigai hanya berdua saja, jarang sekali berada diantara mahasiwa lain. Secara berlebihan orang lain menilai mereka aneh.

 Dina menimpali Opi dengan ketawa kecikikan,” ya justru karena sama-sama aneh makanya mereka pacaran, bego lo Pi..”

Aku   hanya ikut senyum sama kelakuan mereka. Aku  tahu, inilah ekpresi garingnya kala menunggu.

“iya, tapi Opi mah heran aja, kalo mereka pacaran ngomongin apa aja ya?”

“Engga pake ngomong kali Pi, langsung action aja..”

 “hahahahah”  semua tertawa tarbahak-bahak.

“Kalo elo Pi, emangnya kalo pacaran ngomongin apa aja ? Oh ya, Opi kan Jomblo forever ya…? Hahahaha…

“Ih,  tau engga, Opi waktu dulu pacaran diajak ke Ancol, nontonin yang pacaran…” sambil ketawa cengengesan.

“Ngapain lo Cuma nonton doing?” celetuk Dina.

“Belajar…!” berkata serius dan sok polos, tapi kemudian ketawanya meledak, diikuti  tawa kami  sambil menghentak tanah dan memegang perut. Kali ini lawakan Opi sama sekali engga garing.

“Terus? Bisa engga?” Tanya Dina tambah konyol. Sementara Begenk disampingnya tampak malu-malu untuk tertawa karena engga berani ngeluarin joke yang lebih gila lagi, atau dua cewek ini memang sudah sangat gila?

“Bisa apanya?” Tanya Opi dengan wajah polos.

“Ya, bisa niruin saat itu engga? Hahahahhah ketauan lo..!”

“Ih, engga! Sumpah! Kita Cuma nonton dan cekikikan aja kok ngeliat mereka.”

Perlahan tawa kami mereda, kemudian kembali teringat bahwa kami sedang menunggu orang-orang itu yang tak kunjung datang.

Spot kami memang istimewa, bisa melihat begitu banyak hal ke parkiran dan ke jalan  serta mahasiswa kampus sebelah yang kadang-kadang sengaja nyasar ke kantin kami tercinta ini.

“Kita janjian jam 2 kan kemarin?” Opi mulai menggaruk kepala.

“Mmm… iya,”  kulihat jam di HP sudah 14.30. kami melihat lagi ke arah parkiran, arah kedatangan. Tak beberapa saat ada mahasiswi dengan sepatu hak tinggi melintas menuju parkiran.

Tak..tok..tak..tok..tak..tok…

“Eh, tuh lihat… kira-kira cewek itu mobilnya merek apa ya?”  keusilan Opi dimulai lagi. Setelah matanya memandang mengamati perempuan itu dari atas sampai bawah.

“Eh, engga ke parkiran kok…” sahutku dengan polos. Melihat perempuan itu keluar dari area parkiran. Dugaan kami meleset, dia tidak menuju salah satu mobil yang ada di parkiran.

“Lah, jadi tampang senecis itu naik apa? Naik kereta?”celetuk Opi lagi.

“Wuhahahah, mana mungkin naik kereta, bisa patah itu hak sepatu gara-gara lari ngejar kereta..” Dina tidak mau kalah menambahkan celaan.

“ … dan betisnya bisa pecah tuh gara-gara berdiri di dalam kereta…!” imbuh Opi lagi.

Lalu dengan tenang aku menjawab, “ engga, dia naik debi, lagi…!”

“Hahahaha.. itu lagi! Bisa-bisa kering dia gara-gara nungguin debi di Kober” tawa kami meledak lagi, lupa kalau sedang bosan menunggu para lelaki itu. Si begenkpun sudah mulai garuk-garuk kepala melihat kelakuan kami.

Tiba-tiba Opi berseru dengan wajah polos lagi. “Ih… Uni”

“ Apa?”  kali ini aku heran dengan ekspresi mukanya.

“ Pantesan betah duduk disitu, lagi ngumpanin si Blanc, ya?

“ Hah?” mataku melotot, nyaris mencari posisi tersangka itu, tapi kuurungkan. Aku sudah mengira posisinya dimana, dia ada di dalam kantin, tempat paling aman untuk mengamati kami di luar, atau siapapun yang ingin dinikmati, karena  badanya bisa disembunyikan dari dalam. Ah, tidak ada yang lebih penting dari rencana kami hari itu.

“ Ih, Uni sok cuek, itu diliatin blanc tuh… liatin balik dong…” Opi menggoda semakin parah. Berharap bahwa mukaku akan memerah sedangkan aku tidak terpancing  dengan hal itu. Aku tahu, kami tidak pernah kehabisan bahan untuk dicela. Tidak ada orang lain yang dicela, salah satu dari kamipun jadilah

 Kemudian kami terdiam sejenak, dari jauh nampak Teguh menuju ke payung kami.

“ Eh, di Roy lagi di perjalanan dari Surabaya dan Surjo engga bisa bawa kijangnya.. gimana dong..?” belum duduk tapi Teguh sudah memberikan berita buruk.

“ Yahhh, Opikan udah ijin mau pergi hari ini ke Papa, susah lagi dapat ijin ini,” Opi memperlihatkan wajah kecewanya, tapi nyaris datar juga. Siapa juga yang menyangka rencana kita gagal hari ini. “Tapi rencana hari ini tidak boleh gagal. Tidak boleh!” Begitu kira-kira Opi menuliskan kata di wajahnya. Ia segera berdiri, mundar mandir. Berpikir.

 

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar