Kamis, 15 Januari 2009

5 Januari 2009 (mengenang Pooh)

Dear Pooh,
Sepanjang senja  ini aku mengaduk semua dokumen lama, mencari lagi foto-foto jadul kita. Ketemu! Aku dan kamu sedang pelukan, yang kuingat waktu itu adalah acara berbuka bersama TS yang pertama buatku, mendapati keluarga baru di TS, setelah merasa terdampar di fakultas sastra itu.
Napak tilas kemudian beralih ke agenda lamaku,  ada foto TS waktu kita latihan alam di  villa Gemala tahun 1998, nampaknya kronologi dari foto pertama yang kutemukan.
Kemudian  menjelang lembaran akhir, tertulis tanggal 9 feb 2003.  aku menulis semacam unsent message untuk orang-orang tedekatku. Maka inilah yang kutulis untukmu:
“Dear Ria & Ria,
Tak ada kata-kata yang terindah selain persahabatan yang jujur,
Andai kau bisa disini selamanya.”
( sesuatu  yang telah ditetapkan Allah bahwa aku mempunyai dua sahabat terdekat dengan nama yang sama)
Aku tak mampu menulis lebih panjang lagi saat itu. Aku hanya berharap kita bisa bersama seperti dulu, tapi siklus hidup tidak menghendaki demikian bukan? Kita harus terus berjalan, berlari… kamu dengan anak-anak didikmu, aku dengan segala rencana untuk meraih gelar S1.  Waktu itu tantangan hidup sepertinya baru dimulai, dan aku mempersiapkan diri untuk itu semua, dan aku tetap membutuhkanmu disini.
Dan segera takdir itu menolakku habis-habis. Kamu mendapat kesempatan untuk berkembang di Medan, merantau , bertualang atau apalah namanya. Mendapati dunia anak-anak lain disana.  Aku sangat sentimentil sekali menjelang keberangkatanmu, aku sedikit menangis seakan-akan kamu akan selamanya disana. Sejujurnya aku menangis karena aku tahu ke depan akan ada hal berat yang akan kujalani tanpa kamu. Lalu kita bertukar benda. Aku memberikan kalung perak dengan liontin dolphin kesayanganku,  kalung itu tidak pernah lagi kupakai setelah aku pakai jilbab, dulu  kalung itu adalah icon kesayangannku. Lalu kamu memberiku beberapa bros cantik untuk menghiasi jilbabku sebagai gantinya. begitu melankolis ya? dan dikemudian hari ternyata kamu kembali ke Jakarta setelah beberapa bulan disana, tak cukup setahun kau sudah tidak betah dengan system disana, aku sering menertawakan sikap sentimentilku yang terlalu itu.
Oh ya,  kamu menyempatkan diri untuk bertemu umi sebelum berangkat bukan? Umi gemes banget sama kamu, engga tahan mencubit pipi kamu, karena dari 4 anaknya engga ada satupun yang  badannya seberisi kamu.
Lalu kita ke Mal Kalibata, mal tergaring yang ada saat itu, tapi kita menemukan satu kaset, well… sebenernya aku yang rekomendasikan (ngomporin tepatnya) ke kamu supaya beli kaset itu, aku pikir musik dan liriknya “kamu banget” kamu terprovokasi juga, dan aku juga  beli dan dikemudian hari kamu mengakui bahwa menyukai semua lagu di album itu dan membeli lagi album selanjutnya dari grup band itu.
Dan kita pernah menyanyikan bersama lagu ini dengan gitarmu bukan?
"Once upon the time when the sky was covered with blue
Once upon the time when the sun was smiling too
We’re just common people with an ordinary look
We’re just common people with an ordinary love
Once upon the time when I felt in love with you…"
(Once Upon The Time, Mocca)
Dan kamu tahu juga kan, bahwa takdir juga berpihak pada keinginanku, kemudian hari aku akhirnya wisuda juga dan kamu mengancungkan jempolmu untuk keteguhan hati dalam perjuangan mencapai cita-cita.  Aku masih terus begitu, walau kadang kenyataan belum sepenuhnya berpihak padaku. Aku masih  seteguh yang dulu, dan butuh orang seperti kamu untuk mengingatkanku jika aku lupa pada tujuanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar