To the west’s story
Buat gue sandal jepit adalah simbol anti kemapanan ( waduhhh… ngomong anti kemapanan bakal jadi panjangggg… kalo ketangkep anak filsafat nih, atau sandal jepit sendiri memang punya filsafat sendiri? We’ll find out….)
Apapun jenis sandal jepit, buat gue adalah salah satu kenikmatan dunia yang tiada terkira. Gue ingat betapa sang Nuri Diana membawa sandal jepit bututnya ke Perancis, dan orang sana terbengong-bengong dibuatnya. Di kampus sastra sendiri, sandal jepit pernah menjadi fenomena identitas. Beberapa dosen mengharamkan sandal ini masuk ruang kuliah, beberapa lagi cuek bebek… tapi sekarang kampus itu katanya lebih berbudaya dan melarang segala macam sandal masuk ruang kuliah.
Saking enak dipakainya sandal itu, maka sandal jenis ini akan lebih mudah hilang, bukan? Itu yang sering bikin gue kesel. Tapi benarkah sandal jepit juga simbol kemiskinan? Dipandang minor oleh sebagian orang? Gue rasa engga juga… dan kalopun iya, gue sebagai penikmat sandal jepit ga akan peduli sama pendapat itu.
Sandal ini adalah sandal favorit bagi pelancong, makanya ada juga sandal jepit dari bali. Maka itu juga yang gue lakukan waktu gue berada di Padang kemarin. Kemana-mana gue selalu dengan sandal jepit, apalagi buat hiking ke bukit di hadapan rumah gue, atau mencari tempat yang agak tinggi untuk mendapatkan pemandangan yang lebih memuaskan.
Termasuk saat gue ke Solok dengan angkutan umum, semua orang memandang aneh, bahkan sang kenek angkot jadi lebih sadis dengan menaikkan tariff khusus untuk gue, dia kira gue engga tahu tarif angkutan umum rute Solok kali ya?
Dan setiba kembali di pinggir danau, rumah tante gue, sepupu gue bilang gini:
“ Lihat deh, orang kota kemana-mana pake sandal jepit”
Dan gue hanya bisa menjawab: “ kadang-kadang orang kota bisa lebih kampung dan orang kampung bisa lebih kota kalo soal apa yang dipakai di badannya..”
Sepupu gue pun meng-iya-kan pernyataan gue itu, kenyataannya orang kampung emang engga mau kalah gaya ama orang kota dan meledek orang kota yang gayanya kampungan.. ( menurut mereka..) setidaknya itu terjadi di kampung halaman gue.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar