Minggu, 10 Juli 2011

Menarik kenangan Layang-layang ( bagian 3, selesai)

Bagian 3

Aku adalah layang-layangmu yang terbang indah  bermain angin.  Meliuk-liuk dengan percaya diri, talinya kau tancapkan di bumi dan sekali-sekali kau tarik-ulur agar aku tetap indah menari. Aku adalah layang-layang warna warni yang mendendangkan senandung angin pada langit yang cerah, sementara kau  mengawasi. Aku diantara langit dan bumi, hatiku kau genggam erat tapi tubuhku menghiasi  langit. Taukah kau... aku tak ingin terbang lagi. Inkarnasikan aku jadi apapun asal tetap bersamamu, saling memiliki.

-------

Lama kelamaan bentuk layang-layang itu semakin utuh. Datuk dengan tekun menyempurnakan bentuknya. Untuk sentuhan terakhir ia menempelkan kertas minyak berbentuk pita yang panjang di bawah layang-layang yang bentuknya mirip burung itu. Lalu diangkatlah layangan baru itu sampai keatas kepalanya, memperlihatkan benda itu secara utuh kepadaku. Aku kagum tak habis-habis. Mataku tak lepas memanjang tubuh layang-layang itu dari atas sampai ekornya yang sepanjang 4 meter itu.

“Kapan kita mainkan, Tuk?”

“Bisuak”

“Dimana?”

“Di lapangan itu” sambil menunjuk lapangan kecil dekat sawah di seberang jalan.

“Ah, tak bagus. Kita ke bukit saja... “

“ Bukit? Kuat naik ke bukit?  Jauh pula.. nanti lelah..” datuk melihat ke bukit belakang rumah.. “tuh, setinggi itu..”

“Bukan bukit itu, datuk.. bukit yang rendah saja. Di dekat danau..”

“Ah, baiklah.. besok pagi setelah makan, ajak si Jef, kita berangkat ya...”

Aah, asik sekali. Pikiranku sudah jauh membayangkan besok kita akan main layang-layang besar yang pernah kutemui. Aku, Jef dan datuk. Kami akan menerbangkan layang-layang itu.  Malam semakin gelap dan aku belum lepas memandang layang-layang yang ditaruh diatas kursi kayu di dapur. Saat makan malam, pandangan dan khayalanku tak juga lepas dari benda itu. Tapi lama kelamaan aku terlelap juga.

Pagi telah datang bersama dingin embun dan kabutnya. Bau tungku perapian di dapur masih kuat.  Uap panas dari air yang mendidih untuk teh dan kopi pagi ini. Datuk menyeruput kopi  pahitnya begitu nikmat. Nenek dengan secangkir besar teh pahit. Pisang goreng dan ketan merah untuk sarapan pagi. Aku kembali memandangi layang-layang itu. Bentuk lekukannya perpaduan antara cantik dan gagah, gemulai tapi tangguh, diam tapi terlalu banyak yang dapat dibahasakannya. Tentang kegembiraan seorang anak, kebebasan terbatas terbang di udara. Tentang tepi danau dan pemandangannya, tentang kecintaan seorang kakek pada cucu-cucunya. Tentang kerinduan.. ya, kerinduan layang-layang yang pernah putus oleh benang gelasan orang dewasa.

Kami pergi dengan menumpang mobil bak terbuka paman. Mobil berjalan perlahan karena kondisi jalan yang berliku, lagipula untuk apa buru-buru? Tak ada yang harus dipercepat. Menikmati pemandangan pagi dengan cahaya matahari belum rata menyentuh kawasan danau. Kontur bukit dan pohon membuat cahaya matahari terhambat.  Tapi aku ingin sekali memacu waktu, segera tiba di tepi danau dan berjalan menuju dataran yang agak tinggi, lapangan dekat sawah nenek diatas sana tidaklah terlalu tinggi. Dipinggir jalan kereta batubara peninggalan belanda itu, di dekat belokan menuju pabrik, ada jalan beranak tangga menuju kesana. Anak tangga dibuat dengan  menyusun batu-batu berukuran sedang. Selebihnya adalah jalan setapak yang landai.

Tak seberapa lama kami sampai di tempat itu. Datuk segera merapikan alat-alat. Gulungan benang. Aku dan Jef, sepupuku, memegang layangan sama-sama.  Datuk menyuruh kami mengangkat layangan itu setinggi mungkin dan segera mengulurkan benang dan meregangkannya dengan cara menarik jauh-jauh. “lepas!” seru datukku dari jauh. Lalu terbanglah layang-layang cantik itu. Persis seperti bayanganku sebelumnya, ia akan terbang dengan gagah dan meliuk-liuk dengan cantik.

Kami segera mendekati datuk. Benang layangannya ternyata lebih besar dari yang pernah kupunya. Tentu saja, layang-layang ini lebih besar dan talinya agak lebih kuat mengendalikan layang-layang. Aku memegang sebentar, tapi ternyata memang harus dengan bantuan orang dewasa. Layang-layang ini memang berat sekali kendalinya. Sejenak kegembiraan itu menuju puncaknya.  Melihat layang-layang pada langit biru, seperti menemukan lukisan abadi lain. Sampai akhirnya pemandangan lain memecahnya.

Aku panik, ada  layangan lain dari sebelah utara, di sawah yang letaknya lebih tinggi dari tempat kami.

“Datuk...awas, ada layangan lain, dia pasti musuh dan mau perang! Cepat menjauh..!”

“Mana?” , datuk melihat sekeliling.

“itu!” , tanganku menunjuk layang-layang yang kumaksud. Jaraknya tak begitu jauh, tapi aku yakin dengan tali yang panjang layang-layang itu akan segera mendekat dan menghancurkan lagi kesenanganku pagi ini. Aku tak rela, datuk telah membuat layang-layang ini dengan sepenuh hati. Seharian dan harus dihancurkan dalam beberapa menit oleh layang-layang milik orang di bukit itu. Pemandangan tepi danau rasanya jadi carut marut.  Tenangnya air danau seperti berombak besar, angin tak dapat dikendalikan. Semua akan hancur sesat lagi, pikirku.

“cepaaat, datuk... menjauh!”

Tapi datuk tersenyum, “ tidak, tidak ada musuh disini. Layang-layang itu sama sperti layang-layang kita.. pamer kegagahan di langit. Tapi punya kita pasti lebih gagah bukan?”

Aku memperjelas pengelihatanku. Datuk benar, tak ada tanda-tanda seperti ketakutanku.Kelegaan mengembalikan semua pemandangan itu pada posisinya. Kudapati lagi  lukisan langit biru bersama layang-layangku. air danau yang agak tenang dan telah disinari matahari dengan rata. Sawah-sawah bekas panen yang masih dibiarkan petani. Aku tersadar, ini bukan Jakarta.

-----

Aku mendaki dan terus mendaki menuju puncak bukit itu, dan sesaat berhenti pada dataran yang membiarkanku memandang lagi jalan yang telah kutempuh dibawah sana. Pemandangan yang indah, lebih indah dari saat aku melewatinya. Kini terangkum sudah sepanjang jalan itu menjadi pemandangan utuh, semakin jauh aku mendaki, semakin indah. Mencapai puncak adalah tujuan, tapi ternyata proses lebih indah dari tujuan itu sendiri. Maka aku akan terus mendaki, mendaki lebih tinggi lagi, mencapai cintamu dan mencintai semua perjalanan ini.

selesai

MEL

Cawang, 10 Juli 2011

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar