Kamis, 11 Oktober 2012



                                     TENTANG WAKTU

Perlahan aku kembali ke bumi, menapak lagi. waktu-waktu yang berlalu membuatku melayang karena tubuh ini terasa ringan tak bernyawa.  Terbang dibawa angin entah kemana.  Tempat-tempat yang kusinggahi sebenarnya tak asing, tapi penghuninya bisu, tertunduk dan suram.  Kemanapun kupergi yang tersisa hanya ingatan tentangmu, kemuraman tanpa sinar matahari pagi, tanpa harap.  Tak ada tempat untuk berlari. Aku seperti berada di lorong sepi dan tak mampu melihat ujung jalan ini.
Ini  hanya mimpi, pikirku. Aku akan segera terjaga dan memelukmu lagi.  Yang terjadi kemudian aku malah tersedu. Tidak, ini bukan mimpi. Aku tengah memeluk diri sendiri dalam sepi mengenangmu.  Tak ada senandung, tak ada melodi yang mengiringi langkah ini. Malam-malam terasa panjang menunggu pagi .  Di pagi pun aku tak beranjak mengejar matahari lagi. aku lumpuh, andai kau tau.
Dan waktu berlalu, perlahan mengembalikan aku pada tempat yang seharusnya aku berdiri.  Mengukir cerita baru, bersenandung melodi pagi, berlari dan terus berlari, berharap benar-benar bisa melupakanmu.
Setidaknya  aku terbiasa lagi tanpa mu, tapi tidak dalam pikiranku, dalam hatiku. Entah, belum saatnya atau takdir yang sedang bicara. Ucap doa tiap saat perlahan menguatkan.  Berharap ini cepat berlalu. Dan aku kembali bisa memeluk hangat pagi dan damai malam.
Perlahan aku menapak di bumi yang memberi hidup ini, menebar senyum dan tawa serta kerja.
Tetap tak sempurna. Dan kini kembali, tiap detik waktuku, tiap derap langkahku, dalam pikir dan hayalku, dalam hati dan doaku, wujudmu hadir.
Aku akan menanti oktober ini benar-benar berakhir. Kala aku menyapa pagi pada cakrawala dan memeluk hangat sinar matahari. Akan kubungkus dan kubawa pulang untuk persediaan musim nanti. Semoga cukup sampai saat kutemukan kau kembali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar